PANGULU TUA DARI SIMALUNGUN

Di ketinggian tanah Simalungun, di tengah perkebunan teh yang permai, pernah hidup seorang kepala desa yang memerintah selama kurang lebih 50 tahun.  Masyarakat setempat  menyebutnya pangulu tua.

Ketika saya berkesempatan bertemu dengannya, usianya sudah sangat sepuh, mungkin mendekati 100 tahun. Waktu itu, sekitar pertengahan tahun 90-an, dia sudah tidak lagi menjabat.  Saya beruntung masih sempat berjumpa dan berbincang dengannya  meski di tengah ketidaksempurnaan pendengaran dan fisiknya karena di gerus usia.

Sang Pangulu tua ini berkisah bahwa dia menjabat sebagai kepala desa sejak sebelum proklamasi dibacakan di Jakarta oleh Soekarno-Hatta. Dia lengser menjelang tahun 90an. Beliau tidak ingat kapan persisnya mulai menjabat. Tetapi, menurut cerita ayah saya yang kebetulan satu kampung dengan beliau, Pangulu itu sudah menjabat sebagai  Kepala Desa ketika ayah saya mulai duduk di bangku SR (sekarang SD). Usia ayah saya kini sudah  72 tahun.

Katakanlah dia menjabat selama 50 tahun (ambil pas-nya aja deh), tentu sebuah prestasi luar biasa. Pak tua (allahu yarham, beliau kini sudah tiada) ini berarti menjabat lebih lama dari almarhum Presiden Soeharto yang 32 tahun. Jauh lebih lama dari para anggota DPR yang berebutan kursi tiap 5 tahun (yang biasanya sebelum genap 5 tahun sudah hilir mudik silaturahmi ke kantor KPK).

Kalau di banding-banding, dia juga lebih lama menjabat di bandingkan Kolonel Moammar Khadafi –pemimpin Libya—yang sekarang lagi dikejar-kejar Amerika itu. Sang kolonel “cuma” menjabat sekitar 41 tahun aja, itupun dia mempertahankan kekuasannya dengan sekuat tenaga, hampir menghalalkan segala cara.  Padahal sang kolonel adalah salah satu penguasa terlama yang masih ada di zaman internet ini, yang mendapatkan kekuasan bukan karena  warisan.

Pangulu tua cuma kalah masa jabatannya dari para pemimpin yang mendapatkan jabatannya tanpa harus susah payah merebutnya, yaitu; Ratu Elizabeth II dari Inggris yang sampai hari ini sudah bertahta  lebih kurang 59 tahun dan Raja Bumibhol Adulyadej yang sudah berkuasa di tanah Thailand selama 64 tahun. Keduanya  masih duduk manis di singgasananya masing-masing sampai hari ini. Tak pernah bosan.

Malam itu, di tengah udara dingin yang dikirim jajaran bukit dan gunung simarjarungjung, saya bertanya apa hal gerangan yang membuat si Oppung ini dapat berkuasa demikian lama?

Apakah bapak menggunakan cara-cara kekerasan untuk membungkam mereka-mereka yang tidak menurut perintah bapak? Apakah bapak menyihir warga kampung,  yang sebagiannya adalah buruh kebun asal jawa yang didatangkan kumpeni ke tanah simalungun, dengan penampilan berwibawa dan gerak kepala dan tangan yang tertata? Atau barangkali bapak punya banyak perusahaan dan banyak uang sehingga oposisi tidak pernah sanggup menggoyahkan kekuasaan bapak?

Pak Tua sempat tercenung mendengar cecaran pertanyaan anak muda (waktu itu saya masih muda) norak dari Jakarta dengan gaya Desi Anwar itu (waktu itu Tina Talisa belum musim).  Mungkin karena dia mencoba membuka langit-langit ingatan masa lalunya dengan susah payah, sebagainnya lagi mungkin  karena dia memang sudah kurang mendengar.

Tapi jawabannya di luar persangkaan saya.  

“Saya tidak tahu (kenapa saya bisa menjabat begitu lama)…Mungkin karena saya selalu berusaha yang pertama hadir dan membantu pada saat ada yang sakit dan perlu di bawa ke rumah sakit tengah malam buta, atau pada saat ada warga yang butuh pertolongan mendesak sementara tidak ada orang lain yang sanggup menolongnya. Ketika mereka harus memilih (seorang kepala desa), mereka masih mengingat saya…. “

Dengan logat batak yang kental, dia melanjutkan…..

“Orang tidak akan lupa kalau kita hadir dan membantu di tengah kesulitan mereka. Apalagi ketika tidak ada orang lain yang sanggup membantu. Tapi orang tidak akan peduli  kalau kita pernah hadir di pesta mereka….”

Sesederhana itukah? Please deh Oppung…

“Iya, memang begitu”…. Katanya pelan.

Detail pembicaraan kami selanjutnya malam itu, saya sudah lupa. Tapi masih terang dalam ingatan saya resep itulah yang ia bagi kepada saya untuk bisa bertahan di kursi kekuasaan kepala desa nun di dekat danau toba sana,  selama setengah abad.

Saya kurang yakin bapak tua itu pernah membaca buku the 21 Irrefutable Laws of Leadership-nya John C. Maxwell yang terkenal itu. Apalagi pernah ikut training-training leadership yang mahal-mahal dan kebanyakannya dibawakan oleh para trainer yang tidak pernah punya pengalaman memimpin.

Tapi apa yang beliau lakukan, dalam konteks masyarakat desa yang sederhana ketika itu, adalah sejalan dengan apa yang di sarankan oleh para pemikir ilmu kepemimpinan kepada para pemimpin atau mereka yang ngebet ingin jadi pemimpin. 

Di level manapun anda – di level negara kah, pemimpin perusahaan kah atau sekedar  pemimpin rumah tangga—kalau anda ingin di kenang sebagai pemimpin yang baik, berusahalah untuk senantiasa memperbesar lingkaran pengaruh (circle of influence) anda. Tentunya lingkaran pengaruh yang baik dan bukan sebaliknya.

Kehadiran, baik fisik maupun non-fisik, sangat  penting untuk memperbesar lingkaran itu. 

Lingkaran pengaruh seorang Ibu yang hadir secara fisik tiap hari bersama  anaknya; bercengkerama, memotong kuku-kukunya, mengusap luka-luka di kakinya;  tentu berbeda dengan seorang ibu yang hadir hanya pada saat week-end.  

Pengaruh seorang menejer yang tak sungkan hadir mendekat kepada bawahannya – menanyakan  kabar orang tuanya yang sakit, atau sekedar menepuk pundaknya pada saat bergegas mengejar back to back meeting, sambil menyebut nama bawahannya itu dengan friendly – tentu berbeda dengan manager yang kerjanya hanya duduk di belakang meja dan ketak-ketik di depan laptop.

Lingkaran pengaruh seorang Sebastian Pinera –Presiden Chile—mungkin tidak akan seperti sekarang sekiranya saat itu dia tidak hadir di drama 22 jam pengangkatan 33 orang penambang yang tertimbun hidup-hidup di sebuah lokasi penambangan; menyambut, menyalami dan memeluk mereka satu persatu secara langsung dengan ekspresi wajah demikian tulus.

Hadir, di zaman facebook dan twitter sekarang ini, barangkali sulit kalau harus melulu secara fisik.  Itu betul. Meski, untuk beberapa kasus, kehadiran fisik adalah mutlak tidak bisa dibarter dengan kehadiran SMS, BBM, kicauan atau update status.  Kehadiran di tengah keluarga adalah salah satu contohnya.

Ketika orang yang diurus sudah ratusan juta dengan jangkauan wilayah membentang sejauh lebih dari 5200 km dan tersebar dalam ratusan pulau, bentuk kehadiran pemimpin tentunya berbeda. Dia harus di jelmakan (bahasa kerennya di-institusionalisasi) dalam bentuk sistem.  Sistem itulah yang harus bekerja siang malam tanpa lelah; mengantar rakyat yang sakit berobat ke rumah sakit tanpa si rakyat harus khawatir soal biaya,  memastikan warganya cukup makan tanpa ada yang kelaparan , menjamin rasa aman dan nyaman murid-murid SD ketika belajar di sebuah gedung sekolah, termasuk menjamin rasa aman warga penumpang angkot dengan penegakan hukum, dan lain sebagainya.

Sayangnya, banyak pemimpin yang kadang tidak hadir di mata rakyatnya. Terlebih-lebih hadir di hati mereka. Sistem yang dibangunnyapun kadang tidak terasa kehadirannya, terutama di saat-saat sulit dan terjepit.  Lebih sering rakyat harus berjibaku sendirian menyelesaikan persoalan demi persoalan yang seharusnya diurus sistem.

Itulah makanya banyak pemimpin yang sebetulnya tidak sungguh-sungguh punya kekuasaan. Dia punya jabatan tapi tidak punya pengaruh. Dia berbicara tapi tak ada yang sudi mendengar. Dia merasa punya legitimasi tapi sebetulnya dia sudah tak berarti. Dia bersinggasana di kursinya tapi tidak di hati rakyatnya.

Pangulu tua dari Simalungun mengajarkan satu perkara penting untuk menjadi pemimpin; berusahalah senantiasa hadir di hati rakyatmu. Dengan itu rakyatnya menghendaki pangulu untuk memimpin selama setengah abad. Dan jejaknya abadi di hati rakyatnya hingga kini.