HUMAN MOMENT

Selama liburan sekolah ini rumah saya jadi “markas besar” bermain anak-anak tetangga sekitar rumah. Dua anak saya kerap mengajak serta teman-temannya untuk berkumpul dan bermain di dalam rumah. Sebagaimana galibnya anak-anak usia SD bermain, mereka bising  dan ribut dan biasanya hasil akhirnya rumah berantakan seperti pesawat Hercules pecah.

Masih banyak rumah tetangga yang lebih besar dan lebih bagus dari rumah kami sebetulnya. Tetapi mereka memilih rumah kami. Dugaan kami, mungkin, karena dua anak kami yang “paling iklas” kamarnya di acak-acak. Anak tetangga yang rumahnya lebih besar, orang tuanya keberatan rumahnya dijadikan tempat bermain. Karena ada banyak perabot dan barang-barang mahal di dalamnya yang terancam berantakan atau malah hancur di senggol atau di langgar anak-anak itu saat bermain.

Sementara di dalam rumah kami yang kosong melompong itu anak-anak bahkan bisa bermain bola tanpa harus khawatir menabrak apapun. Continue reading “HUMAN MOMENT”