THE ART OF GETTING WHAT WE WANT

Karto, teman saya,  adalah seorang yang sangat argumentatif. Dia punya seribu satu fakta dan data yang siap dia hadirkan secara logis untuk meyakinkan siapa saja yang meragukan argumennnya. Dia memang seorang yang sangat cerdas, kritis, mengetahui banyak hal,  dan seorang pendebat yang kompulsif.

Dia bisa dengan mudah mengeluarkan seluruh isi kamus setebal bantal untuk mendukung argumennya. Atau mengutip pendapat seseorang yang kredibel di bidang yang sedang diperdebatkan semudah dia menyebutkan apa  makanan favoritnya. Di lain waktu dia mengeluarkan semua data dan hasil riset terkait dengan sebuah topik yang diperdebatkan seenteng dia menumpahkan semua koleksi mainannya dari dalam karung.

Tetapi kami –teman-temannya—yang kerap  menjadi lawan debatnya, tidak pernah bisa teryakinkan dengan semua argumennya itu. Akan ada selalu argumen dibalik argumen yang ujung-ujungnya kalau tidak berantem ya…sepakat untuk tidak sepakat.

Yang kami tolak bukan data, fakta, hasil riset, kutipan, ayat, atau apapun yang dia hadirkan sebagai pembenaran dari argumennya.

Yang kami tolak adalah DIA-nya. Karakter diri dan kualitasnya sebagai seorang teman. Continue reading “THE ART OF GETTING WHAT WE WANT”