FILOSOFI LARI

Setelah berbulan-bulan,  pencapaian prestasi lari saya agak kurang mengesankan. Saya masih belum bisa mencapai  10 KM, ambang batas psikologis bagi seseorang bisa dianggap sebagai seorang “pelari murni”. Kalau saya masih pelari campur.  Campur jalan kaki.

Skor terjauh saya baru sampai di 8 KM yang ditempuh dalam waktu 50  menit.  Sungguh terlalu!

Tetapi saya masih belum menyerah.  Saya masih menyimpan tekad kuat untuk break my own target. Finish 10 KM tanpa campur jalan kaki. Apalagi campur selfie.

Ini bukan untuk jago-jagoan. Ini sebuah upaya sederhana untuk menaklukan diri sendiri. Untuk keluar dari rasa malas dan banyak alasan. Sambil, saya merasa kalau badan saya bergerak, otak saya juga ikut bergerak ceria. Continue reading “FILOSOFI LARI”