OBITUARI UNTUK AYI

Begitu menerima kabar duka itu, langkah saya tiba-tiba terasa berat.  Lama sudah kami tidak bertemu. Kehidupan sudah betul-betul membuat kami sibuk mengejar bayangan masing-masing. Tetapi benarlah ungkapan itu; True friends are never apart.  May be in the distance, but never in heart.

Bukan karena gerimis yang masih menggenang di bumi para datuk sore itu yang membuat ada air yang terasa hangat di pelupuk mata saya . Genangan kenangan di dalam hati mengalir diam-diam dan menetes tak terbendung.

Kenangan saya melesat jauh pada masa hampir setengah abad lalu. Ketika itu, kami pertama bertemu di kampus mentereng Universitas Indonesia sebagai mahasiswa baru.  Gerbang besar kampus dengan panji-panji  ilmu dan reputasi yang menjulang tinggi itu membuat langkah-langkah pertama saya terasa sangat gagap.

Pertemuan dengan Agus –kami memanggilnya Ayi—membuat langkah saya terasa lebih ringan. Continue reading “OBITUARI UNTUK AYI”