EDISON, TESLA DAN PELAJARAN TENTANG TALENT

Pada tahun 1884, seorang anak muda brilian menginjakan kaki di Amerika hanya berbekal  buku puisi, secarik kertas rekomendasi dan uang 4 sen.  Demikian film inflight movie di maskapai Garuda itu dibuka. Sayapun tertarik menyimaknya sampai habis dalam perjalanan pulang ke Jakarta.

Kertas rekomendasi itu ditujukan kepada seorang yang sangat terkenal pada zamannya, dan masih tetap terkenal sampai zaman now, namanya Thomas Alfa Edison. Seorang penemu hebat, dan ketika itu juga seorang pebisnis kaya raya Amerika.

Nama anak muda itu Nikola Tesla. Usianya ketika itu baru 28 tahun, kelahiran Serbia. Kita mungkin pernah sayup-sayup mendengarnya. Atau mungkin sebagian tidak pernah mendengarnya sama sekali.

Singkat cerita, Tesla kemudian bekerja pada Edison. Keduanya terlibat dalam sebuah proyek perubahan maha besar yang kelak merevolusi kehidupan manusia yaitu penemuan arus listrik. Dengan kejeniusannya Tesla mendatangkan kemakmuran berlipat-lipat terhadap Edison. Sepanjang masa hidupnya tidak kurang dari 300 hak paten didaftarkan atas nama anak muda ini.

Sayangnya kerja sama mereka tak berumur panjang. Tesla yang jenius dijanjikan bonus dan kenaikan gaji yang ternyata kemudian diingkari oleh Edison. Padahal Tesla sudah menunjukan bukti, dengan kecerdasannya Tesla berhasil memperbaiki “penemuan tak-sempurna” karya Edison yang diberi nama Direct Current (DC) yang menghasilkan listrik.  Dengan sentuhan seorang Tesla, metode arus langsung (Direct Current) tersebut sontak mendatangkann kekayaan yang melimpah-limpah dan menjadikan Edison kian kaya.

Ini pelajaran pertama dari kisah ini. Hanya Bos dengan kompetensi bagus yang  mampu menarik talenta-talenta terbaik di sekelilingnya.

Tetapi apakah talenta terbaik itu akan bertahan lama dan memberikan yang terbaik dari dalam dirinya, sangat tergantung kualitas karakter bos itu. Dalam kasus Tesla, dia merasa dibohongi oleh Edison dengan iming-iming bonus dan kenaikan gaji berkala sebagai kompensasi dari kinerjanya yang sangat baik. Dan Edison dengan entengnya menjawab; “Tesla, you don’t understand our American humor”.

Tesla pun pergi meninggalkan Edison.

Dia mendirikan perusahaannya sendiri dan menyempurnakan pendekatan  Alternating Current (AC) atau arus listrik tak langsung yang sudah dia kembangkan semasa masih di Eropa, sebelum bekerja dengan Edison. Ide ini pernah  ditolak mentah-mentah oleh Edison, karena dianggap potensial menyaingi kepopuleran DC yang ketika itu menjadi cash cow perusahaan Edison dan membuatnya demikian populer di seluruh Amerika.

Tesla yang jenius dan terluka oleh sikap Edison menunjukan bahwa AC jauh lebih sempurna daripada DC-nya Edison.

DC memang penemuan tak sempurna.  Dia memiliki banyak keterbatasan. Beberapa yang fatal adalah dia terlampau mahal, dengan arus yang dihasilkan terlampau lemah serta tidak bisa mengalirkan listrik ke tempat yang jauh.  Di zaman modern, arus DC ini dihasilkan dari battere, aki (accu) dan sejenisnya yang memang terbatas.

Akan halnya AC yang dikembangkan Tesla, dalam waktu singkat langsung populer karena mematahkan langsung asumsi arus listrik yang sangat terbatas versi DC-nya Edison.  Dengan tiga motor induksi-nya (itu mengapa disebutnya arus tak langsung alias Alternating Current), AC mampu mengkonversi arus listrik menjadi energi mekanik dengan cara yang sangat efisien.  Dengan itu, AC menghasilkan energi listrik yang jauh lebih tinggi, bisa dialirkan ke tempat-tempat yang jauh dan dengan harga yang 1000 kali lebih murah daripada listrik produksi DC.

Anda tentu tidak ingin mengaliri kulkas anda dengan listrik dari battere atau aki bukan? Terlalu mahal dan terlalu boros.

Jelas penemuan Tesla ini unggul gilang gemilang dan menyisakan Edison yang geram bukan kepalang, karena reputasinya hancur berantakan di depan anak muda yang pernah dipekerjakannya ini.

Dan apa respon Edison?  Ini akan menjadi pelajaran kedua buat kita.

Dengan kekayaan dan pengaruh yang dimilikinya, Edison membuat black campaign ke seluruh Amerika bahwa temuan Tesla itu berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.  Dalam buku sejarah dicatat, cara-cara Edison membayar orang dan melakukan character assassination terhadap Tesla ini dianggap lebay dan tidak fair. Dia mempertontonkan di depan umum bagaimana Anjing dan Gajah bisa mati kalo kena setrum listrik versi AC. 

Tuduhan itu tidak terbukti. Yang ada Tesla membalasnya dengan elegan, dia mengalirkan 1 juta volt listrik ke tubuhnya dan dia tetap hidup.  Kecuali rambutnya saja yang berantakan. Kebalikannya, justru DC-nya Edison bisa membunuh orang di sebuah kursi yang kelak menjadi cikal-bakal kursi listrik untuk menghukum mati para terpidana di penjara.

Pelajaran terpenting disini adalah, old habits never die.  Kalau sekarang  para incumbent (penguasa lama) panik menghadapi para penantang tangguh dan menggunakan berbagai cara untuk menjegalnya, ternyata contohnya sudah ada dari dulu. Dan mungkin akan selalu seperti itu. Dalam bisnis maupun politik.  

Dan biasanya ini terjadi oleh karena para incumbent itu abai atau lalai akan potensi diam-diam para penantang tangguh itu. Padahal ada pepatah perang lama yang mengajarkan; “if you can’t beat them join them”.  Menjegal dan mempermalukan penantang yang benar-benar tangguh, pada akhirnya akan berbalik menghajar diri sendiri.  Ini juga terjadi pada Edison. Kita akan bahas nanti.

Dalam sejarah, “perang arus”  AC melawan DC itu berlangsung alot, dalam waktu yang lama dan memakan biaya yang luar biasa besar.  Di belakang dua nama besar Edison dan Tesla itu ada cukong-cukong kakap yang memback-up mereka.  Edison di back up JP Morgan (salah satu kapitalis terbesar penguasa Amerika), sementara Tesla di back-up oleh George Westinghouse, yang modalnya lebih cekak.

Meski akhirnya Tesla dengan Westinghouse yang memenangkan peperangan itu, tetapi Westinghouse terlanjur banyak hutang dan bangkrut,  tak sanggup membayar royalti intelektual kepada Tesla. Wentinghouse meminta penangguhan pembayaran royalti yang ketika itu dijawab Tesla dengan merobek kontrak kerjasama mereka. Itulah momen krusial perubah nasib penemu eksentrik yang “nyaris dilupakan” ini.

Anak muda yang datang ke Amerika dengan buku puisi dan uang 4 sen itu, menciptakan sebuah kontrak paten arus listrik yang kalo dinilai dengan kurs sekarang bernilai USD 300 juta. Seiring waktu dengan meluasnya penggunaan AC dalam arus listrik, disinyalir hak paten dan royalti Tesla saat ini disinyalir bernilai milyaran dollar. Dan “uang milyaran dollar” itu dia sobek-sobek  di depan Westinghouse dengan geram.

Ini pelajaran berikutnya.

Para talent biasanya orang-orang  tak sabar proses.  Mereka kerap tidak menikmati apa yang mereka rintis karena mereka sudah sibuk memikirkan sesuatu yang baru. Dan ketika mereka tidak melihat hasilnya dalam waktu sekejap, mereka akan mudah frustasi.

Tesla juga demikian. Sempat menikmati kekayaan dari hasil temuan-temuannya, tetapi karena sikap eksentrik dan kekurangsabarannya, banyak proyek-proyek listriknya kemudian merugi.  Dia datang dalam keadaan miskin dan dia meninggal juga dalam keadaan miskin dan sendirian, di sebuah kamar hotel di New York City pada tahun 1943.

Tetapi kelak, dia menginspirasi banyak ilmuwan dan penemu zaman now. Google didirikan oleh Larry Page dan Sergery Brin dengan semangat kesempurnaan Tesla dalam berkarya. Elon Musk secara khusus menciptakan produk mobil listrik yang fenomenal dan diberi nama “Tesla”.  Nama Tesla juga menjadi bandar udara internasional di negara kelahirannya Serbia. Sekelompok ilmuwan anti mainstream menjadikannya seperti “Imam Besar”  bagi para penemu.

Akan halnya Edison, dia kehilangan kontrol atas perusahaannya Edison General Electric  oleh karena hutang menggunung sebagai akibat perang arus diatas. Dia “ditendang keluar” dari perusahan yang didirikannya, dan diambil alih secara penuh oleh JP Morgan. Berikutnya perusahaan itu di merger dengan perusahaan lain yang kelak menjadi “General Electric” (GE) yang kita kenal sekarang.

Saya menarik nafas panjang, melihat keluar jendela pesawat.  Ini sudah di Jakarta.

What goes around comes around

Tangerang, November 2017

FAKTA TENTANG TALENT
Dalam survey global yang berjudul “The War for Talent” di tahun 2000-an, McKinsey company menemukan bahwa karyawan yang bertalenta sangat tinggi (high superior talent), 8 kali lebih produktif dibanding rata-rata karyawan, khususnya pada pekerjaan-pekerjaan yang sangat kompleks dan membutuhkan daya analisis yang tinggi.  Level produktifitas itu berkurang seiring dengan menurunnya kompleksitas pekerjaan.

Menurut Steve Jobs, pendiri Apple Computer, bahwa sekelompok kecil talent level kelas A+ akan dapat mengelola orang-orang di kelas B dan C dalam jumlah sangat besar.

Dalam survey itu juga, sepertiga dari para pemimpin bisnis, politik dan olahraga di seluruh dunia mengatakan bahwa menemukan talent yang tepat adalah tantangan kepemimpinan mereka yang paling signifikan.

APA YANG BISA DI LAKUKAN?
Menurut survey itu, fokus untuk mengelola 5 persen dari karyawan/ tim anda yang bisa menghasilkan 95 persen kontribusi untuk organisasi. Caranya?
     
Buatlah Penawaran yang Menarik dan Berbeda. Anda tidak akan pernah bisa menarik dan menahan talenta terbaik jika hanya berkompetisi dari sisi finansial. Sebab banyak perusahaan lain yang lebih besar dari anda mampu memberikan lebih baik. Mungkin anda memberikan tantangan lebih, misi yang berbeda, keunikan kepemimpinan, lingkungan yang lebih cari, dan seterusnya.
       
Target yang tepat. Anda tentu tidak bisa mengincar lulusan MBA dari Harvard untuk mengerjakan pekerjaan customer service sederhana. Selain terlalu mahal juga tidak akan menarik untuk mereka. Tetapi anda bisa menemukan banyak orang-orang yang bisa melayani dengan sungguh-sungguh meski mereka cuma tamatan sekolah menengah.
      
Realistis. Sesuaikan dengan kenyataan. Jangan terlalu banyak obral janji hanya sekedar untuk menarik mereka.


Selebihnya adalah membangun sistem dan budaya internal organisasi yang membuat mereka betah ada di dalam.

 

One thought on “EDISON, TESLA DAN PELAJARAN TENTANG TALENT”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *