WIBAWA DAN KHARISMA

Minggu lalu saya dibuat kaget oleh seorang teman. Ketika memperkenalkan saya di depan audiens sebelum saya tampil bicara, dia menyebut saya memiliki “kharisma” sebagai seorang pembicara.

Jelas teman ini sedang tidak bercanda, karena bukan tipenye bercanda tidak perlu di depan banyak orang. Dan bukan sedang menyenangkan hati saya, karena kami berteman sejak lama dan selalu apa adanya satu sama lain.

Sebagai seorang yang meminati topik kepemimpinan, lama saya memikirkan tentang kata “kharisma” ini dan mencoba mencari tahu apa dan bagaimana bentuknya. Karena dalam konteks budaya tradisional Indonesia, kata ini lebih sering disematkan dengan kepemimpinan. Artinya sangat penting dan sangat dekat kekerabatannya dengan kepemimpinan.

Berbeda misalnya dengan kultur barat, yang lebih sering mengasosiasikan kepemimpinan dengan “keberanian”, “visi”, “role model” dan sejenisnya.

Tiga terakhir itu gampang di definiskan. Karena berkaitan dengan karakter atau kompetensi yang sudah makin terang dan gamblang definisinya saat ini.

Kharisma ini misterius. Saya sempat kebingungan karena sulit mendefinisikan kata ini dan berfikir bahwa kata itu cuma mitos dan hanya cocok dijadikan merek motor. Bukan kompetensi seorang pemimpin riil di zaman now.

Sampai teman tadi menyebutkan kata itu. Saya berfikir lagi, kharisma ini masih main rupanya.

Lalu apa pentingnya?

Di masa lalu, para pemimpin tradisional kita, Raja-Raja, Kepala Suku, Pemimpin Adat, sering mendapatkan sematan kata ini. Biasanya diiringkan atau dipadupadankan dengan kata lainnya, seperti “Berwibawa”.

Tetapi saya sudah bisa membedakan apa itu “wibawa” yang dimaksud dalam kamus tradisional masyarakat kita.

Wibawa ini berkaitan dengan penampilan fisik; baju yang dikenakan, pangkat yang disematkan, asesoris yang ditempelkan sana-sini, raut muka yang dipantas-pantaskan, dagu yang diangkat sedikit,  tatapan mata yang disendukan atau ditajamkan (tergantung kesan yang ingin dibangun) dan suara yang dibikin mendeham dari kedalaman gua, seperti suara Brama Kumbara dari Kerajaan Madangkara.

Intinya itu soal penampilan dan kesan fisik.

Dan memang demikianlah para raja dan pemimpin tradisional di masa lalu, mereka berwibawa dengan pakaian kebesaran masing-masing. Beberapa diantaranya tampak berkharisma di balik kesederhanaan pakaian kebesaran yang mereka kenakan. Tampak jadul tapi berkharisma. Berkharisma tapi jadul.

Pemimpin masa kini masih mewarisi sumber-sumber kewibawaan tradisional dalam bentuk penampilan itu. Beberapa diantaranya bahkan hanya menyandarkan kewibawaan itu semata hanya pada penampilan dan asesoris. Karena selain itu mereka sebenarnya memang kosong melompong. Seperti dompet di tanggal tua.

Tetapi sulit untuk menemukan yang kita sebut berkharisma. Lagi-lagi itu hanya disematkan kepada satu – dua orang secara subyektif.

Dalam penafsiran sinkretis masa lalu, mereka-mereka yang berkharisma itu pastilah punya kualitas manusia setengah dewa. Atau keturunan Raja Nganu, yang orang tuanya menikah dengan penguasa laut nganu atau gunung nganu. Intinya dikait-kaitkan dengan sesuatu yang mistis.

Memang demikianlah semangat zaman dulu yang seringkali mencari pembenaran dari kebingungan dengan mengaitkannya dengan sesuatu yang di luar nalar. Bahkan seorang Max Weber, salah satu ilmuwan penting masa lalu yang menulis tentang kharisma, mengatakan “charisma is the gift from above..” kualitas yang diilhamkan dari langit.  Opung Weber pun bingung mendefinisikannya.

Peter Drucker, bapak manajemen modern cenderung sinis mendefinisikan hal ihwal kharisma ini. Dia bilang, “Kharisma itu sumber kehancuran dari para pemimpin, yang membuat mereka tidak fleksibel,merasa benar sendiri dan sulit untuk berubah”. Karena tiga orang yang disebut pemimpin berkharisma, kata Drucker, hasilnya adalah mengacak-acak dunia. Drucker menyebut contohnya Hitler, Stalin dan Mao Ze Dong.  

Mungkin Drucker lagi nyinyir saat menulis itu. Tetapi, mbah Drucker ingin mengatakan, lupakan perdebatan tentang kharisma yang rada  mbulet itu. Fokus saja kepada misi dari para pemimpin itu.

Tetapi disitu masalahnya.

Para pemimpin menjual misi (dan juga mimpi) kepemimpinannya itu kepada orang-orang, agar orang-orang tertarik dan kemudian mau mengikutinya.

Problemnya, ada yang sudah berbusa-busa menjual misi dengan segala cara tetapi tidak ada yang tertarik, atau malah ditinggalkan oleh orang-orang, baik diam-diam maupun terang-terangan.  Tetapi ada yang tanpa banyak bicara, orang-orang tertarik mengikutinya dan bahkan loyal bersamanya.

Disitulah faktor kharisma bermain.  Dan disitulah bedanya dengan wibawa.

Ibarat jualan di pasar yang ramai, “wibawa” adalah tampilan toko dan pajangan menarik, yang membuat orang-orang mau menengok atau mampir sebentar. Paling banter pengaruh wibawa adalah,  merayu dengan trik-trik atau gimmick marketing yang membuat orang mau membeli dengan maksud coba-coba.

Sementara kharisma, mampu membuat orang itu menjadi pembeli loyal dan pelanggan tetap yang datang terus menerus, dan bahkan mengajak orang untuk membeli produk tersebut karena merasakan manfaatnya, tanpa diminta.

“Wibawa” adalah pedagang minyak gosok keliling yang nyaring dan lihai menjajakan obat super mujarab segala jenis penyakit, menggunakan speaker yang lebih nyaring dari speaker mushola sebelah rumah,  yang mampu membuat orang bergerombol –sambil teman si pedagang memainkan tipu-tipu aduhai merayu gerombolan itu untuk membeli.

Oleh karena keterbatasan ruang pikirnya, atau karena pengaruh medsos, atau semata polos, gerombolan itupun membeli dengan maksud coba-coba dan akhirnya menyesal membeli produk sampah tersebut.

Tetapi “kharisma” adalah minyak gosok Tjap Txxxn khas makassar, yang tak pandai beriklan, tetapi semua yang datang ke makassar akan memburu minyak oles over-price tersebut sebagai oleh-oleh, karena memang merasakan manfaatnya. Bahkan merekomendasikannya tanpa diminta.

Wibawa adalah manipulasi. Kharisma adalah inspirasi.

Wibawa adalah ilusi. Kharisma adalah misi itu sendiri.

Tangerang, 6 Januari 2019

TIPS – MENJADI PEMIMPIN YANG KHARISMATIK

Anda ingin menjadi pemimpin yang berkharisma? Berikut perilaku-perilaku yang bisa anda latih dan kembangkan. Disarikan dari berbagai sumber.

1. Orang kharismatis memancarkan aura sukacita. Hal pertama yang anda lihat dari orang-orang berkharisma adalah pancaran aura kehidupan yang kuat. Apakah dia “good guy” atau “bad guy”, ada emosi kuat yang memancar dari tindak-tanduknya. Tips: Berbagilah passion anda dengan orang sekeliling dan buatlah orang lain terinspirasi untuk tumbuh.

2. Orang kharismatis mengilhami kepercayaan diri. Seolah dunia ada dalam genggamannya. Mereka percaya diri dengan kemampuannya, tetapi tidak menjadi narsis, dan orang di sekelilingnya tidak merasa terancam atau hilang ditelan kepercayaan diri orang itu. Mereka malah terinspirasi. Tips: Buang ketidakpercayaan diri dan fokus kepada kekuatan anda. Tularkan kepercayaan diri itu kepada orang lain sehingga muncul juga kepercayaan diri mereka.

3. Orang kharismatis menularkan keyakinan. Biasanya mereka menonjol ketika berhadapan dengan tuntutan perubahan. Karena mereka komit dan konsisten dengan keyakinan mereka sehingga orang tergugah untuk ikut. Lawannya adalah apatisme. Apatisme membunuh charisma dan kepemimpinan anda.

4. Orang kharismatis adalah pencerita yang hebat (great storyteller). Orang tidak akan bergerak hanya dengan disuruh atau diperintah. Dibutuhkan komunikasi terus menerus yang kontekstual dan menyentuh titik-titik motivasi terdalam, sehingga mereka dengan sendirinya bergerak. Dan itu hanya bisa di dapat dengan teknis storytelling yang baik. Tips: belajar untuk bisa membangun dan menyajikan cerita secara emosional sekaligus menghibur, sehingga orang-orang anda tidak bosan (hanya mendengar perintah) dan tidak sadar tergerak.

5. Orang kharismatis berkomunikasi secara empatik. Seolah anda hanya sedang bercakap-cakap berdua saja dengan dia bahkan ketika di sekitar anda ada banyak sekali orang. Secara genuine, telinga, mata dan perhatian mereka fokus dan membuat anda merasa spesial.  Tips: Fokuskan energi dan perhatian anda secara tulus kepada orang yang ada di depan anda. Bukan cuma lihat dan dengar, tetapi saling berbagi energi antara anda dan mereka.

  •  

2 thoughts on “WIBAWA DAN KHARISMA”

  1. Blok yang sangat bagus. Dari segi isi, penulisan, pemilihan kata, bahkan dari segi paragraf sangat nyaman untuk dibaca. Isinya mudah dipahami dan ngena. Terima Kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *