BISNIS SOSIAL TAK KENAL KRISIS

Di tengah situasi bisnis yang lagi lesu darah seperti sekarang, mempunyai ratusan order yang belum sempat tertangani oleh karena load yang menumpuk adalah sebuah kemewahan. Itu adalah angin surga yang diimpikan para pelaku bisnis, yang saat ini harus berjuang bahkan hanya sekedar untuk bertahan membayar cicilan rutin.

Jangankan ratusan order di depan mata, satu peluang order yang belum jelas bentuknya, sayup-sayup statusnya dan remang-remang penampakannya, akan dikejar sampai ke lobang semut.

Ini ada ratusan customer, ordernya udah mateng, menanti dengan tidak sabar, tetapi terpaksa harus menunggu untuk dilayani oleh karena kapasitas si pengelolanya yang terbatas.

Mau bisnis itu?

Datanglah ke Bekasi. Ada anak-anak muda yang sekarang lagi kelimpungan mengelola permintaan penjemputan barang-barang bekas yang membludak dari banyak rumah tangga di Jabodetabek, dalam program DONASI BARANG (https://donasibarang.org/)

Ketika bisnis lain menyewakan dan menjual Gudang-gudangnya, mereka baru saja memperbesar kapasitas gudangnya 2 kali lipat. Karena kiriman barang bekas ke gudang mereka lebih deras dari baniir yang menerjang Kawasan Bekasi beberapa waktu lalu, dimana mereka juga kena imbasnya. Kiriman itu bahkan datang dari seluruh Indonesia, dari Sumatera, Bali, Sulawesi, Kalimantan, dll.

Mereka bahkan harus merekrut banyak anak-anak muda dan Ibu RT di sekitar lokasi gudangnya untuk menyortir barang-barang bekas itu, dikelompokan dan kemudian disalurkan. Sebagian besar barangnya adalah baju-baju bekas (sudah bisa ditebak), buku, barang elektronik (PC, TV, Radio, dll), furniture (seperti springbed, meja, kursi, lemari), kursi roda, stroller bayi, bahkan mainan anak-anak dan barang-barang antik. Ada juga yang mendonasikan barang-barang mewah yang harganya jutaan, seperti alat pancing premium, sepatu dan tas dengan brand tertentu, sampai kendaraan bermotor.

Kemana barang-barang tersebut disalurkan? Kepada Lembaga-lembaga sosial lain yang membutuhkan barang-barang tersebut yang mereka tidak mampu kalo harus beli sendiri, kepada warga sekitar dalam radius 5 KM yang membutuhkan, ke daearah-daerah bencana, ke warga di pelosok dan sisanya dijual untuk membiayai operasional pekerjaan dan membayar para relawan dan Ibu-ibu RT itu.

Mereka bekerja dengan standar profesional. Membangun hubungan yang baik dengan para donatur, relawan, mitra dan para penerima manfaat (yang mendapatkan bantuan dari mereka). Sementara ada lembaga serupa yang tidak mau menerima barang-barang tertentu, anak-anak Donasi Barang ini tidak pernah menolak barang apapun yang didonasikan kepada mereka selagi itu bukan barang haram dan berbahaya.

Untuk menjaga kepercayaan, mereka selalu mengirimkan laporan kemana dan bagaimana barang-barang dari donatur itu disalurkan, serta membangun sistem kerja yang transparan dan akuntabel.

Dengan tagline “sisa-sisa tak selalu sia-sia”, saat ini mereka sedang menyusun aksi untuk berekspansi dengan membangun kemitraan dengan banyak orang untuk menyebarkan misi mereka itu ke seluruh Indonesia dengan harapan semakin banyak penerima manfaat dari lembaga mereka.

Inilah yang disebut dengan Bisnis Sosial atau Kewirausahaan Sosial itu. Bahasa kerennya Social Entrepreneurship. Sebuah aktivitas menciptakan nilai tambah (creating added value) dari masalah yang dihadapi sehari-hari yang memberikan dampak perubahan secara sosial di tengah masyarakat.

Bisnis itu sendiri adalah penciptaan nilai. Bagaimana membuat kopi item yang harganya cuma 3000 perak kalo dijual abang-abang starling menjadi bisa di jual 10 ribu ketika di kasih label “black coffee”. Membuat yang murah jadi mahal karena dikasih kemasan atau brand, yang mahal jadi lebih terjangkau dengan teknologi dan lain sebagainya.

If you’are not making a difference in other people’s live, you should not be in business. That’s a simple“, kata Richard Branson, si pendiri Virgin Airwyas yang pertama merubah industri penerbangan menjadi lebih terjangkau harganya itu. Jauh sebelum Air Asia.

Kata Nadiem Makarim, pendiri Go-Jek, ketika dia ditanya bagaimana caranya membuat Go-Jek menjadi perusahaan Decacorn (perusahaan yang nilai pasarnya lebih dari 10 milyar dollar alias lebih dari 140 T), “saya tidak pernah bermaksud mendirikan Go-Jek untuk menjadi perusahaan Decacorn. Saya mendirikan Go-Jek untuk menjawab tantangan yang ada saat itu. Kalau Anda mendirikan perusahaan hanya untuk menjadi Decacorn, anda hampir pasti tidak akan pernah mencapainya”.

Demikain juga dengan Jack-Ma, perusahaannya, Alibaba, menjadi salah satu perusahaan yang paling menguntungkan sedunia (sebelum dia menghilang), adalah karena dia menjawab persoalan di tengah UMKM China yang mulai merebak ketika itu, yang sulit untuk mendapatkan pasar global. Alibaba berdiri dengan membuat platform digital yang membuat akses penjual dan pembeli menjadi mudah dan murah.

Tetapi biasanya ujung dari bisnis adalah menimbun keuntungan sebanyak-banyaknya untuk segelintir orang dengan modal sekecil-kecilnya. Kalaupun ada yang dibagian untuk sosial, ya alakadarnya aja, dalam program CSR.

Sementara bisnis sosial lebih fokus kepada memperbesar manfaat untuk sebanyak mungkin orang, bukan cuma segelintir orang. Tetapi, prinsipnya sama. Sama-sama menjawab persoalan atau tantangan riil di depan mata.

Gojek menjawab tantangan mobilitas. Alibaba menjawab tantangan aksesabilitas, Donasi barang menjawab persoalan barang bekas dengan tuntas, iklas dan berkelas.

Disana ada para donatur yang sering kelimpungan dengan barang-barang tak terpakai, yang tentu akan terpanggil untuk berbagi. Apalagi berbagi barang bekas, bukan uang. Pahala dapet, lemari atau ruangan ga lagi sesek. Sementara di ujung sana, ada orang yang melihat itu sebagai barang baru untuk mereka, yang mereka terima dengan penuh rasa syukur.

Nah, ditengah situasi seperti apapun, akan selalu ada peluang untuk mereka yang mau berusaha. Ngga usah selalu berfikir untuk mencari keuntungan dulu deh. Mulailah dengan pemikiran; persoalan atau tantangan apa yang bisa saya selesaikan di sekitar saya.

Jangan lihat itu kecil atau remeh. Kalo anda bisa menyelesaikannya, itu akan merubah masyarakat dan saya jamin akan merubah hidup anda sendiri.

Awalnya mungkin cuma ngumpulin sampah yang lazim jadi persoalan di tengah-tengah masyarakat, tapi lihatlah sekarang bank sampah berdiri di mana-mana. Awalnya cuma menjawab ketersediaan air di tengah masyarakat, akhirnya gerakan sedekah air sekarang menggurita. Tadinya cuma mau memfasilitasi bagaimana orang supaya gampang menggalang dana, sekarang ada banyak platform crowd funding (penggalangan dana secara digital) yang berkembang, seperti kitabisa.com.

Di Bangladesh ada model yang fenomenal. Muhammad Yunus, seorang dosen muda, awalnya tidak puas hanya dengan mengajar di bangku kuliah. Dia tergerak untuk membantu ibu-ibu menyelesaikan persoalan kesulitan ekonomi sehari-hari dan akses terhadap permodalan usaha kecil.

Muhammad Yunus meminjamkan uang tanpa jaminan dan tanpa ribet. Ternyata model itu berhasil dan kini Grameen Bank menjadi model dari sebuah bisnis sosial kelas dunia yang menjawab persoalan laten dan serius, kemiskinan. Muhammad Yunus-pun mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian dengan inisiatifnya itu.

Coba perhatikan di sekitar kita. Pasti ada banyak sekali persoalan dan tantangan. Persoalan itu tidak pernah selesai kalo sekedar dikeluhkan.

Di tengah sulitnya mencari pekerjaan saat ini, mungkin persoalan-persoalan itu menunggu sentuhan ajaib kita untuk menyelesaikannya. Sehingga pada akhirnya kita mungkin ngga perlu cari kerja lagi, dan malah menciptakan banyak lapangan pekerjaa, seperti anak-anak muda Donasi Barang itu dan juga banyak pelaku bisnis sosial yang lain.

Karena sepatutnya, kata Muhammad Yunus, “People should wake up in the morning and say ‘I am not a job seeker, I am a job creator’”

Semangat mencoba ya frens…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *