MISKIN DAN KAYA

Jodi adalah teman saya lari pagi. Dia pelari yang mengagumkan. Dia bisa lari non-stop selama 1 sampai 1,5 jam dengan kecepatan diatas rata-rata pelari lain di lintasan itu. Dia selalu nampak bersungguh-sungguh dan serius ketika sedang berlari, karena tidak ada lain yang bisa dilakukannya. Jodi seorang tuna rungu dan tuna wicara. Alias dia tidak bisa mendengar dan bicara. Ketika berlari dia sangat fokus.

Jika kebetulan ada cewek cakep lewat, Jodi sering ngasih isyarat khas cowo normal. Di usianya yang sudah 47 tahun dia belum menikah. Dia tidak punya uang katanya. Pekerjaannya menjadi tukang bangunan serabutan yang menunggu panggilan. Itupun kalo mandornya cukup sabar mau mempekerjakan seorang tukang yang bisu dan tuli.

Dengan keterbatasan kemampuan saya menangkap bahasa isyarat, dia menjelaskan bahwa beberapa kali dia ditolak oleh gadis karena kondisinya. Ditambah dia tidak punya cukup uang. Tapi dia tidak putus asa. Dia bilang dia selalu berdoa sambil menangis di tengah malam untuk meminta diberikan jodoh.

Tadinya saya pengen memotivasi Jodi dengan mengutip kata-kata seorang motivator “Kalau miskin jangan kelamaan, kasian keluarga…” Tapi hati saya ngga nyampe kesitu. Bahkan di otak sayapun ngga ada memori tentang kalimat itu sebelumnya. Kalo itu tidak jadi kontroversi beberapa waktu lalu, saya ngga tau bahwa ada kalimat sesongong itu.

Selain, tentu saja sulit untuk menyampaikan kalimat itu kepada Jodi dengan isyarat yang dia mengerti. Bisa sih saya tuliskan, tetapi akan lebih sulit lagi membayangkan respon diam dan tak berdaya dia atas kalimat itu. Saya tak tega membayangkan sorot matanya.

Siapa yang mau miskin? Jodi pasti ngga mau. Kalo dia kaya, meski dia punya keterbatasan, ceritanya pasti berbeda bukan?

Saya ngga mau, Anda juga ngga mau. Semua orang juga ngga mau miskin.

Tapi faktanya ada 700 juta manusia di seluruh dunia yang hidup dalam garis kemiskinan ekstrim. Mereka juga –haqul yakin—ngga mau jadi miskin. Asal anda tahu yang disebut miskin menurut Bank Dunia adalah mereka yang penghasilannya kurang dari 1,9 dollar atau 30 ribu rupiah sehari. Sekitar 900 ribu rupiah sebulan.

Di Indonesia lain lagi. Yang masuk kategori miskin menurut BPS adalah mereka yang penghasilannya sebesar 450 ribu rupiah per bulan. Dan itu jumlahnya ada 26 juta orang lebih. Naik terus tiap tahun kaya harga property.

Apakah anda tega mengutip kalimat songong tadi dan ditujukan kepada 26 Juta orang saudara-saudara kita itu, “woyy…kalo miskin jangan kelamaan, kasian keluarga”.

Saya berhusnudzon bahwa itu cuma kalimat dagangan untuk memotivasi. Tetapi tentu tidak pada tempatnya menistakan kemiskinan dan menisbatkan kesalahannya sepenuhnya pada mereka yang miskin itu. Seolah mereka adalah orang-orang yang malas bekerja.

Sudah sejak lama soal kemiskinan dan kekayaan ini menjadi kajian para ilmuwan. Bahkan Adam Smith bapak kapitalisme itu terkenal karena menulis tentang kekayaan dan kemiskinan bangsa-bangsa. Di level individu, ada banyak perdebatan teoritis tentang kenapa seseorang bisa sukses dan kaya raya sementara yang lain bisa miskin papa. Indikatornya banyak sekali.

Betul personal motivation atau keinginan yang kuat untuk berubah, satu diantara faktor yang diperhitungkan. Tapia dia tidak berdiri sendiri. Ada faktor dukungan struktur dan sistem yang akan menunjangnya.

Saya pribadi sih percaya bahwa faktor sistem jauh lebih berperan menentukan soal kekayaan dan kesejahteraan suatu bangsa.

Forbes baru saja merilis daftar 2700-an orang-orang paling kaya di seluruh dunia, mereka yang berharta minimal 15 trilyun rupiah atau USD 1 milyar. 10 orang di puncak tertingginya adalah orang yang itu-itu saja, mayoritas orang Amerika, para pemilik bisnis Internet/ Teknologi, orang-orang yang sering anda dengar lah kisah suksesnya.

Darimana asal negara orang-orang super tajir itu? Warga Amerika (724 orang), China (698 orang), India (140 orang), Jerman (136 orang), Russia (117 orang), sisanya dari berbagai negara lain.  Indonesia menyumbang 18 orang di list itu. Dua diantara adalah penghuni tetap Top 100, yaitu dua bersaudara pemilik Djarum dan BCA Group; Michael dan Budi Hartono

Bagaimana menjelaskan kenapa mayoritas orang-orang kaya itu datangnya dari Amerika, Cina dan Eropa? Mengapa Indonesia “cuma” menyumbang 18 orang? Kenapa Benua Afrika yang luas dan terdiri dari puluhan negara itu juga cuma menempatkan 18 orang saja wakilnya? Apakah orang Indonesia dan Afrika lebih malas dibanding Amerika dan Cina sehingga lebih miskin? Bagaimana menjelaskan kenapa banyak negara-negara miskin itu berada di Afrika?

Ini soal yang ribet karena multi faktor. Bukan sekedar ekonomi, didalamnya ada soal alam, politik, sosial, budaya, dan banyak lagi.

Untuk menjawab kenapa Amerika, Cina, Eropa menyumbang banyak orang super kaya, itu pasti karena pertumbuhan ekonomi, GDP (Produk Domestik Bruto) dan indikator-indikator makro ekonomi dan juga sistem politik lebih stabil di negara-negara tersebut dibandingkan di Indonesia dan Afrika. Ini panjang kalo dijelasin.

Tapi secara umum, ini soal bibit, kualitas tanah dan iklim yang sesuai.

Anda tahu, lebih cepat anda menjadi juragan duren kalo Anda punya bibit duren musangking yang ditanam di daerah bersuhu antara 24 – 30 derajat celcius, di iklim tropis dengan ketinggian 50 – 1000 meter diatas permukaan laut. Bibit unggul di iklim yang ideal. Jadilah barang tu…

Itupun belum selesai. Berapa banyak bibit dan lahan yang anda miliki? Kalo anda cuma 3 biji pohon duren, ya ngga bisa juga jadi juragan. Palingan untuk konsumsi sendiri plus bagi-bagi tetangga. Kalopun Anda punya lahan luas, ada kepastian ngga bahwa pada saatnya panen duren anda tidak disabotase orang? Atau tiba-tiba ada hama yang menghancurluluhkan mimpi Anda dalam sekejap? Atau ada kebijakan yang merugikan harga duren Anda?

Anda mengatakan kepada petani duren yang durennya hilang di sabotase orang sebagai pemalas misalnya, jelas ngga nyambung dong. Orang bakal marah lah. Padahal dia sudah bekerja keras berbulan-bulan untuk menanam dan merawat tanamannya.

MATA UANG

Belum lagi kalo kita bicara sistem yang lebih gede lagi. Orang-orang kaya itu tahu bagaimana mengakumulasikan kekayaannya dengan cara-cara yang tidak pernah terpikirkan oleh orang seperti Jodi dan 26 Juta manusia lain itu. Ini ilmu investasi.

Mereka punya jurus bagaimana menggandakan modal dan asetnya menjadi kekayaan berlipat-lipat, dengan aset (yang mungkin) pas-pasan yang mereka miliki.

Katakan mereka punya kebun duren 1 hektar, sejumlah pohon, alat-alat pertanian, dan buah duren siap panen.

Jauh sebelum panen, mereka sudah pastikan aset tanah, pohon, alat pertanian dan buah itu di valuasi (dinilai) dan diagunkan ke bank plus diasuransikan. Dapat duit. Duit hasil agunan itu mereka putar lagi di bisnis yang lain atau sekedar membeli intrumen investasi yang lebih aman, seperti produk perbankan. Atau memborong saham perusahaan blue chip yang listing di bursa atau membeli property lain yang harganya lebih stabil. Atau semuanya sekaligus.

Sertifikat property-property itu, tentu kemudian bisa di sekolahkan lagi (dijadikan jaminan) di bank. Dapat duit lagi, yang kemudian diputar lagi di tempat lain. Terus dan terus…

Tidak cukup sampai disitu. Mereka berfikir dan bekerja keras bagaimana kebun duren itu juga bisa jadi “kebun duit” sebelum panen, dengan misalnya membangun fasilitas wisata, sehingga orang datang sekedar untuk berfoto dengan duren. Membuka lembaga edukasi dan pelatihan tentang per-durenan, membuat pancake duren, bolu duren, dan aneka olahan duren, membuat museum duren, duta duren, TV dan radio duren, terus dan terus… menggulung tak habis-habis seperti utang orang miskin.

Begitulah kapitalisme bekerja. Dan begitulah cara orang-orang super kaya itu menumpuk uang dan kekayaan. Mereka bernafas, berfikir, bekerja keras dengan cara seperti itu setiap hari dan setiap saat.

Sementara Jodi dan jutaan kamu miskin lain, boro-boro punya akses ke sistem itu, Kepikiran aja kagak. Sebagiannya karena tidak tahu dan tidak percaya diri, sebagiannya lagi karena mungkin tidak mau.

Terhadap mereka yang tidak tahu tapi mau kaya –kaum cape misqueen—kalimat “jangan miskin kelamaan dong” itu mungkin ada tuahnya. Tapi terhadap mereka yang tidak mau, kan beda urusannya.

Orang-orang itu mungkin punya MATA UANG yang berbeda dalam kehidupannya.

Kekayaan yang dimaksudkan dengan menumpuk-numpuk harta itu bukan sesuatu yang mereka anggap penting banget. Mereka punya mata uang lain yang jauh lebih penting dalam hidup mereka yang layak diperjuangkan dengan all blood, sweat and tears

Bisa saja itu kebahagiaan keluarga, bisa saja itu kemerdekaan pribadi, bisa saja itu integritas dan kejujuran, atau mungkin juga keselamatan dunia-akhirat. Ya suka-suka mereka dong. Miskin atau kaya buat mereka ya sama saja, sekedar ujian yang harus dijalani tanpa harus disesali berlebihan.

Meskipun banyak juga sih yang bilang kekayaan ngga penting, tapi tetep berhayal punya gunung emas kaya di kongo atau menikah dengan Sultan Brunei…

Buat Jodi, teman saya, saat ini yang penting adalah mendapatkan jodoh gadis baik hati dan tidak sombong yang mau nerima dia apa adanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *