KOMPETENSI

Beberapa hari setelah lebaran, ceritanya saya diminta untuk menjadi tim penguji (bahasa kerennya panelis) untuk calon-calon pimpinan sebuah kampus swasta di Tangerang. Pekerjaannya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menguji visi, gagasan dan track-record mereka sebagai akademisi dan calon pimpinan (wakil rektor, dekan dan direktur program pasca sarjana) di sebuah kampus yang sedang berkembang pesat itu.

Meski seorang pengajar, saya bukan akademisi yang hidup di kampus. Saya pernah jadi akademisi di awal karir saya dahulu di almamater saya. Tapi pekerjaan itu sudah lama saya tinggalkan. Sesekali datang ke kampus sebagai pengajar tamu atau sekedar ngobrol-ngobrol berbagi inspirasi dengan mahasiswa dan dosen.

Sempet bertanya-tanya juga kenapa mereka meminta saya? Bukannya banyak para akademisi kawakan dengan titel-titel mentereng yang tentu lebih layak menguji para doktor-doktor itu? Ya, para kandidat yang saya uji itu rata-rata berpendidikan doktor (S-3), dari dalam dan luar negeri.

Anda tahu berapa lama mereka sekolah untuk sampe dapat gelar itu setelah tamat SMA? Kadang sama dengan masa jabatan Presiden 2 periode. Satu dasawarsa alias 10 tahun!

Rupanya yang mereka cari dari seorang panelis itu adalah orang yang punya kemampuan bertanya. Lebih tepatnya memformulasikan pertanyaan yang bernas, berkualitas dan, ini dia… independen.

Soal kemampuan membuat pertanyaan yang bernas dan powerful ini adalah sebuah kompetensi tersendiri. Mereka yang master disitu bisa dibayar amat sangat mahal. Itulah para executive coach yang disewa jam-jaman dengan bayaran ribuan dollar, atau para host acara talkshow terkenal.

Anda bisa menikmati acara talkshow sekelas Mata Najwa, Oprah Winfrey Show dulu atau yang lagi hits –Podcastnya Deddy Corbuzier—tanpa sadar kuota anda tersedot habis selama berjam-jam dari HP. Memangnya siapa yang anda lihat di acara-acara talkshow itu? Bintang tamunya? Mereka ganti-ganti. Hostnya? Tampangnya begitu-begitu aja malah keliatan tambah tua dan semakin ngga gemoy.

Yang anda nikmati dan bikin gemoy itu adalah kualitas dan kedalaman percakapannya. Darimana kualitas dan kedalaman percakapan itu muncul? Dari kualitas pertanyaan yang diajukan oleh si host-nya.

Saya kebetulan belajar sedikit tentang seni bertanya ini. Dan merasakan bagaimana powerfulnya sebuah pertanyaan yang diajukan kepada orang yang tepat, di saat yang tepat dengan cara yang tepat, dalam konteks kepemimpinan dan perubahan.

Kembali kepada para doktor yang saya uji itu.

Selagi mendengarkan mereka mempresenasikan visi-misinya, saya membayangkan betapa sulitnya menjadi pimpinan di kampus ini.

Sudahlah mereka harus sekolah sampe S-3, kemudian mereka harus mengejar syarat jam mengajar tertentu, melakukan penelitian rutin dan harus melakukan publikasi di jurnal yang terstandarisasi secara internasional yang untuk bisa tembus kesitu membutuhkan perjuangan darah dan airmata tersendiri, harus melakukan pengabdian masyarakat dengan jam tertentu, belum lagi harus memastikan komitmen mutu dari semua itu (pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat),  serta setumpuk syarat lainnya.

Saya juga membayangkan betapa sulitnya guru-guru kita saat ini sekedar untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan bayaran yang layak sebagai guru. Apalagi di masa pandemi. Dipaksa sekolah bahkan sampe S-2 dan S-3, harus ikut sertifikasi ini-itu, harus memenuhi standar PAK-DUPAK (kalo ga faham, googling aja) untuk bisa naik pangkat dan menerima kredit tertentu, seminar dan workshop macem-macem, belum lagi membuat bahan ajar kreatif di masa pandemi, dan muacem-muacem lagi.

Dengan kerepotan itu semua, di akhir bulan yang mereka terima membuat mereka membayangkan seandainya mereka dulu terlahir sebagai gitaris.

Di dunia bisnis sama saja ceritanya.  Untuk bisa naik ke jabatan manajerial paling rendah saja, para pegawai itu harus pontang-panting siang-malam bersaing dengan sesamanya untuk menunjukan kompentensi dan kinerja mereka.

Kalo dianggap layak, mereka masuk ke sebuah radar virtual Bernama talent pool, dimana mereka diamati dan diobservasi. Kalo mau dipromosi, mereka harus masuk sebuah program pengembangan berbulan-bulan, digojlok dan di puter-puter di beberapa penugasan. Tidak cukup sampe disitu, mereka akan diuji kompetensi, luar-dalam, atas-bawah, depan-belakang, demi sebuah kata ajaib bernama; highly competent talent (talen berkompetensi tinggi).

Di luar sana, saya tahu ada banyak sekali teman para profesional dan ahli yang sedang menggemakan sebuah gerakan nasional Indonesia kompeten, dimana seharusnya Indonesia dibangun diatas dasar kata yang dipopulerkan pertama kali oleh RW White ini, yang akan menjadi jaminan dari efisiensi, produktifitas dan kualitas kinerja; baik orangnya, prosesnya, produknya dan juga organisasinya. Demi sebuah daya saing bangsa yang semakin ngenes ini.

Tetapi, sekompeten apapun, kata Lauren J. Peter yang mempopulerkan The Peter Principles dalam manajemen, pada akhirnya manusia akan sampai pada satu tahap inkompeten. Apalagi dalam sebuah dunia hirarkis dimana bukan benar-benar keterampilan, keahlian dan pengetahuan yang menjadi panglima untuk bisa naik terus ke atas. Melainkan popularitas dan loyalitas.

Ketika itu, kompetensi sudah bukan lagi satu set karakteristik atau perilaku yang menjadi pembeda dari produktifitas dan keunggulan, melainkan –kata Lauren J. Peter juga—hanyalah “the ability to detect and satisfy the personal taste of your superiors

Panjang umur kompetensi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *