SHOULD WE GO BACK TO THE OFFICE?

Secara spontan –mayoritas pegawai maupun para bos—akan menjawab kompak; YES! Tetapi kalo ditelisik lebih dalam alasannya bisa beda-beda.

Yang paling umum adalah bahwa mereka sudah merindukan bertemu, berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan teman-temannya di kantor. Dengan kata lain kebutuhan untuk terkoneksi dengan manusia lain (maaf para bos, bukan benar-benar ingin kembali produktif dan berkontribusi).

Sambil di sisi yang lain, mayoritas yang ingin kembali ke kantor sudah letih dengan kesendirian saat bekerja di rumah, mengalami technological-fatigue dari satu virtual meeting ke virtual meeting lainnya, yang ternyata malah bikin stress.

Continue reading “SHOULD WE GO BACK TO THE OFFICE?”

BISNIS SOSIAL TAK KENAL KRISIS

Di tengah situasi bisnis yang lagi lesu darah seperti sekarang, mempunyai ratusan order yang belum sempat tertangani oleh karena load yang menumpuk adalah sebuah kemewahan. Itu adalah angin surga yang diimpikan para pelaku bisnis, yang saat ini harus berjuang bahkan hanya sekedar untuk bertahan membayar cicilan rutin.

Jangankan ratusan order di depan mata, satu peluang order yang belum jelas bentuknya, sayup-sayup statusnya dan remang-remang penampakannya, akan dikejar sampai ke lobang semut.

Ini ada ratusan customer, ordernya udah mateng, menanti dengan tidak sabar, tetapi terpaksa harus menunggu untuk dilayani oleh karena kapasitas si pengelolanya yang terbatas.

Mau bisnis itu?

Continue reading “BISNIS SOSIAL TAK KENAL KRISIS”

MEMILIKI VERSUS BERBAGI

Minggu lalu saya diundang untuk berbicara di depan forum  Sekolah Relawan (yang saya ceritakan kiprahnya secara detil dalam tulisan RELAWAN, PEMIMPIN DAN KERJA TAK BERBAYAR)

Mereka akan mengirim angkatan kedua anak-anak muda Indonesia penuh semangat dan idealisme dalam program  Tatar Nusantara.

Tatar Nusantara (TN) adalah program yang mirip dengan Indonesia  Mengajar-nya Anies Baswedan. Bedanya mereka bukan cuma mengajar, tetapi  selama setahun penuh menemu-kenali,  menggali dan mengembangkan pontensi sosial- ekonomi  daerah tersebut (biasanya daerah terpencil),  bersama-sama dengan masayarakat setempat . Ujung-ujungnya diharapkan dapat mengangkat derajat sosial-ekonomi masyarakat sekitar.

Mereka yang dikirim bukanlah anak-anak muda kurang kerjaan. Sebagiannya adalah anak-anak muda berprestasi dan bahkan sudah bekerja di posisi-posisi yang bagus. Salah satunya sudah bekerja di sebuah perusahaan multi nasional di luar negeri.  Tetapi oleh karena panggilan hati nurani, dia tinggalkan pekerjaan empuk itu dan mengabdi dalam program TN.

Memang inilah satu diantara ciri kaum millennial. Anak-anak muda zaman now,  generasi gadget,  yang kerap bikin pusing banyak orang itu. Continue reading “MEMILIKI VERSUS BERBAGI”

NGERI-NGERI SEDAP DUNIA DIGITAL

Sewaktu cek-in di counter Garuda Indonesia di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta,  ternyata lebih dari 90% kursi sudah terisi. Padahal kami datang 2 jam sebelum waktu terbang.   Kursi-kursi favorit dekat jendela dan di lorong semua sudah fully book.  Kami bertiga akhirnya duduk di kursi-kursi tengah dan terpisah satu sama lain, diapit oleh orang-orang asing .  Terbayang kami akan mati angin dalam penerbangan panjang itu.

 “Sekarang rata-rata sudah (melalui) online cek-in, Pak”, kata petugas counter menjelaskan. “Yang cek-in melalui counter ini udah makin langka, tinggal orang kaya Bapak ini ..”, kata petugas pria setengah baya itu sambil menahan senyum.  Saya merasa Bapak ini seolah sedang melihat Dinosaurus. 

Tetapi senyum itu tiba-tiba hilang, dan dia berbisik penuh kemasygulan. Mukanya tiba-tiba serius; “tapi jangan ikut-ikutan online cek-in ya Pak. Kalo semua online, nanti kami kerja apa..?”  Ahh…kemenangan memang manis…

Dari sekian banyak counter di terminal baru yang megah itu, memang 2 atau 3 saja yang buka. Sisanya kosong.  Di counter yang buka itupun tidak terlihat antrian panjang penumpang.  Hanya satu-dua saja.

Selamat datang di dunia digital. Dunia dimana mesin dan teknologi akan lebih banyak menggantikan peran manusia. Continue reading “NGERI-NGERI SEDAP DUNIA DIGITAL”

EMPLOYEE ENGAGEMENT DAN KINERJA BISNIS

Banyak eksekutif hari-hari ini mengalami sindrom –kata anak muda sekarang—Andi Lau, antara dilema dan galau. Perlambatan ekonomi yang berlarut-larut ini membuat semua strategi pertumbuhan dan ekspansi seperti pisau tumpul. Tidak banyak membantu, kalau boleh dibilang tidak berfungsi sama sekali.  Oleh karena itu strategi paling populer digunakan pada zaman ini adalah strategi bertahan  (survival). Masih bisa hidup saja sudah bagus. Seraya mengidentifikasi setiap kemungkinan untuk terus memperpanjang nafas.

Sayangnya dari sekian banyak strategi yang dikembangkan untuk bertahan di tengah bisnis saat ini, tidak banyak eksekutif yang menjadikan Employee Engagement sebagai top priority strateginya.  Padahal dalam riset global yang dipublikasikan oleh Harvard Business Review pada tahun 2013 lalu, karyawan yang melibatkan diri dengan sepenuh hati terhadap pekerjaannya (highly-engaged employee) inilah solusi dari pertumbuhan maupun strategi bertahan hidup dalam bisnis. Continue reading “EMPLOYEE ENGAGEMENT DAN KINERJA BISNIS”