SHOULD WE GO BACK TO THE OFFICE?

Secara spontan –mayoritas pegawai maupun para bos—akan menjawab kompak; YES! Tetapi kalo ditelisik lebih dalam alasannya bisa beda-beda.

Yang paling umum adalah bahwa mereka sudah merindukan bertemu, berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan teman-temannya di kantor. Dengan kata lain kebutuhan untuk terkoneksi dengan manusia lain (maaf para bos, bukan benar-benar ingin kembali produktif dan berkontribusi).

Sambil di sisi yang lain, mayoritas yang ingin kembali ke kantor sudah letih dengan kesendirian saat bekerja di rumah, mengalami technological-fatigue dari satu virtual meeting ke virtual meeting lainnya, yang ternyata malah bikin stress.

Continue reading “SHOULD WE GO BACK TO THE OFFICE?”

RAS YANG HIDUP DENGAN SENSASI

Sewaktu sakit kemarin, kaya ada yang berbeda waktu saya melihat cermin. Tampang yang kuyu dan kumis dan jenggot yang awut-awutan membuat saya terlihat menyedihkan.

Bukan cuma menyedihkan, saya juga melihat makhluk yang rapuh disana. Kemudian saya lihat tangan dan anggota tubuh lain yang sering kita banggakan ini, sama saja, terlihat rapuh di mata saya waktu itu.

Padahal katanya, saya, anda, kita semua ras manusia, diciptakan sesempurna-sempurnanya penciptaan.

Iya sempurna, tapi rapuh.

Continue reading “RAS YANG HIDUP DENGAN SENSASI”

PESAN KEENAM UNTUK TITANIC

Hari menjelang tengah malam ketika pesan radio itu datang pada 14 April 1912. Ini pesan yang keenam yang diterima oleh kapal itu. Tetapi sang operator penerima pesan terlalu sibuk melayani permintaan dari dan untuk para penumpang VVIP diatas sana yang sedang berpesta. Sehingga pesan “bahaya di depan” itu diabaikan. Lagipula itu cuma datang dari seorang operator rendahan dan bukan pesan yang pantas jadi perhatian pimpinan.

Pesta terus berlangsung di geladak kapal dan di ruang-ruang mewah Titanic. Kapal yang diklaim “tidak mungkin tenggelam” itu too big too fail. Sang kapten sangat pede dan karenanya mengabaikan pesan-pesan itu.

Pesan keenam itu memang tidak diteruskan kepada sang Kapten karena tidak ada keterangan tertulis dari si pengirim pesan untuk itu. Makanya diabaikan oleh operator penerima pesan Titanic. Tetapi pesan-pesan bahaya dari kapal lain sebelumnya yang juga berlayar melewati laut atlantik utara sudah sampai ke telinga sang kapten. Bahwa ada gunung es yang bermunculan yang mengancam kapal, cuaca berkabut dan banyak fatamorgana dimana-mana.

Continue reading “PESAN KEENAM UNTUK TITANIC”

BUKAN SEKEDAR KEMBALI

Tulisan saya di Detik.com, tentang rencana dibukanya kembali kantor-kantor di era pandemi covid-19. Renewal NOT Return.


Saat orang-orang mulai kembali beraktivitas di kantor-kantor, pelan-pelan perkantoran menjadi kluster baru penyebaran Covid-19. Angkanya pun perlahan tapi pasti merangkak naik. Ini sepatutnya menjadi alarm serius untuk para pemimpin di kantor-kantor tersebut.

Kebijakan kembali ke kantor itu sepatutnya dipersiapkan dengan bekal yang memadai. Bukan cuma sekadar bekal 3M –memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Kebijakan 3M itu mungkin cocok untuk ruang publik yang periode interaksinya terbatas, seperti di mall, rumah ibadah, pasar atau kafe.

Di kantor, orang bisa tinggal lebih dari 8 jam x 5 hari seminggu dalam satu ruang dengan interaksi intens. Pola interaksi itu sudah dibangun dalam siklus kebiasaan bertahun-tahun. Akan dengan mudah pola interaksi sebelum era Covid itu dilanjutkan di era adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi ini.

Selengkapnya: https://news.detik.com/kolom/d-5145552/bukan-sekadar-kembali?utm_source=facebook&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_medium=btn&utm_content=news&fbclid=IwAR13lcUTDJ0MqKNd2BPZy_yN9AKVxr1oyCRaUjpeHQBE3gTKnsC-ynQ4hHM

 

RESILIENSI: MERANGGAS DAN TERUS TUMBUH

Salah satu aktivitas new normal pagi hari saya di saat-saat krisis sepert ini adalah menelpon teman-teman lama, saudara atau guru-guru kehidupan saya. Sekedar bertanya bagaimana kabar mereka dan ngobrol ngalor ngilur ngga jelas.

Keliatan saya orang yang sangat peduli terhadap orang lain? Ngga juga. Itu salah satu cara saya mengatasi rasa gelisah dan stress yang kini kian menjangkiti banyak orang.

Hari-hari ini kita dituntut untuk makin resilient menghadapi ketidakjelasan akibat wabah covid ini. Resilient ini terjemahannya kira-kira makin kuat, tabah, tidak gampang menyerah, sekaligus elastis untuk siap melenting lagi.

Continue reading “RESILIENSI: MERANGGAS DAN TERUS TUMBUH”