KOMPETENSI

Beberapa hari setelah lebaran, ceritanya saya diminta untuk menjadi tim penguji (bahasa kerennya panelis) untuk calon-calon pimpinan sebuah kampus swasta di Tangerang. Pekerjaannya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menguji visi, gagasan dan track-record mereka sebagai akademisi dan calon pimpinan (wakil rektor, dekan dan direktur program pasca sarjana) di sebuah kampus yang sedang berkembang pesat itu.

Meski seorang pengajar, saya bukan akademisi yang hidup di kampus. Saya pernah jadi akademisi di awal karir saya dahulu di almamater saya. Tapi pekerjaan itu sudah lama saya tinggalkan. Sesekali datang ke kampus sebagai pengajar tamu atau sekedar ngobrol-ngobrol berbagi inspirasi dengan mahasiswa dan dosen.

Sempet bertanya-tanya juga kenapa mereka meminta saya? Bukannya banyak para akademisi kawakan dengan titel-titel mentereng yang tentu lebih layak menguji para doktor-doktor itu? Ya, para kandidat yang saya uji itu rata-rata berpendidikan doktor (S-3), dari dalam dan luar negeri.

Anda tahu berapa lama mereka sekolah untuk sampe dapat gelar itu setelah tamat SMA? Kadang sama dengan masa jabatan Presiden 2 periode. Satu dasawarsa alias 10 tahun!

Continue reading “KOMPETENSI”

KEBERUNTUNGAN DAN NASIB

Indra –begitu teman saya ini biasa di panggil—adalah salah satu orang paling beruntung dalam hidupnya.

Memilih profesi sebagai seorang Salesman, ketika tidak ada orang yang mau jadi salesman, dia sukses. Dia bisa memperolah penghasilan sampai ratusan juta sebagai salesman. Gajinya tidak seberapa, tetapi insentifnya ruarr biasa untuk ukuran pemuda berusia 20-an. Insentifnya itu datang dari penjualan yang berhasil dibukukannya. Padahal dia cuma jualan oli.

Tidak heran boss-nya sayang banget kepadanya. The golden boy alias anak emas. Dia minta ijin keluar untuk memulai usahanya sendiri, tidak diperbolehkan oleh atasannya itu. Siapa juga yang mau kehilangan angsa yang telah bertelur emas?

Tetapi Indra anak muda santun dan murah senyum ini punya mimpi. Dia ingin terbang lebih tinggi. Dan kesempatan itu datang tepat di depan matanya. Continue reading “KEBERUNTUNGAN DAN NASIB”

DIPLOMASI ANAK-ISTRI

Messi – Suarez – Neymar

Beberapa waktu lalu saya dan seorang teman diundang untuk berbincang dengan beberapa orang mantan pimpinan sebuah lembaga tinggi negara.

Oleh karena keberhasilan mereka memimpin lembaga itu di masa lalu, merekapun diminta untuk menjadi konsultan internal sang mantan dan sedang menyiapkan program pengembangan.

Problemnya klasik.

Pimpinan-pimpinan yang baru dianggap masih kebingunan mengurus lembaga maha penting perawat demokrasi itu, sehingga seperti tak tentu arah.

Dengan sistem kolektif-kolegial yang diterapkan disitu, dan setelah lebih dari satu tahun terpilih, para pimpinan seperti jalan masing-masing.  Tidak ada koordinasi, ego sektoral, ego latar belakang dan tak bekerja sebagaimana mestinya sebagai sebuah tim.  Yang satu mau ke utara dan yang lain mau ke selatan.  Dalam banyak kasus, satu sama lain seperti kucing dengan anjing.

Padahal nasib dan keberlangsungan demokrasi bangsa ini, diantaranya, ada di tangan para pimpinan itu. Continue reading “DIPLOMASI ANAK-ISTRI”

ADAB MENGAJAR IBU-IBU

Beberapa minggu terakhir ini saya mendapatkan tantangan lebih dalam karir saya sebagai seorang pengajar dan pembicara publik, yaitu mengajar Ibu-ibu.

Saya sering berjumpa dengan para Ibu dalam kelas-kelas saya, tetapi biasanya dalam konteks peran profesional mereka, baik sebagai seorang karyawan maupun pimpinan di organisasi/ perusahaan.

Ini kali saya mengajar para full time Moms. Orang-orang spesial yang menjadi role model dari anak-anaknya bahkan jauh sebelum anak-anaknya mengerti arti sebuah kata. Para pekerja penuh waktu, pembangun peradaban yang tak kenal henti dari rumah-rumah mereka,  yang hanya berharap dibayar dengan cinta yang tulus.

Mereka adalah para menejer yang rangkap-rangkap jabatan di berbagai divisi –keuangan, operasional, diklat, keamanan, kebersihan, merangkap OB dan kurir—di rumah mereka masing-masing.  Tetapi dengan mereka tentu saya tidak bisa berbicara dengan jargon-jargon teknis manajerial yang rumit itu.

Bukan mereka ngga faham, tetapi kebutuhan mereka bukan itu. Continue reading “ADAB MENGAJAR IBU-IBU”

MEMILIKI VERSUS BERBAGI

Minggu lalu saya diundang untuk berbicara di depan forum  Sekolah Relawan (yang saya ceritakan kiprahnya secara detil dalam tulisan RELAWAN, PEMIMPIN DAN KERJA TAK BERBAYAR)

Mereka akan mengirim angkatan kedua anak-anak muda Indonesia penuh semangat dan idealisme dalam program  Tatar Nusantara.

Tatar Nusantara (TN) adalah program yang mirip dengan Indonesia  Mengajar-nya Anies Baswedan. Bedanya mereka bukan cuma mengajar, tetapi  selama setahun penuh menemu-kenali,  menggali dan mengembangkan pontensi sosial- ekonomi  daerah tersebut (biasanya daerah terpencil),  bersama-sama dengan masayarakat setempat . Ujung-ujungnya diharapkan dapat mengangkat derajat sosial-ekonomi masyarakat sekitar.

Mereka yang dikirim bukanlah anak-anak muda kurang kerjaan. Sebagiannya adalah anak-anak muda berprestasi dan bahkan sudah bekerja di posisi-posisi yang bagus. Salah satunya sudah bekerja di sebuah perusahaan multi nasional di luar negeri.  Tetapi oleh karena panggilan hati nurani, dia tinggalkan pekerjaan empuk itu dan mengabdi dalam program TN.

Memang inilah satu diantara ciri kaum millennial. Anak-anak muda zaman now,  generasi gadget,  yang kerap bikin pusing banyak orang itu. Continue reading “MEMILIKI VERSUS BERBAGI”