BISNIS SOSIAL TAK KENAL KRISIS

Di tengah situasi bisnis yang lagi lesu darah seperti sekarang, mempunyai ratusan order yang belum sempat tertangani oleh karena load yang menumpuk adalah sebuah kemewahan. Itu adalah angin surga yang diimpikan para pelaku bisnis, yang saat ini harus berjuang bahkan hanya sekedar untuk bertahan membayar cicilan rutin.

Jangankan ratusan order di depan mata, satu peluang order yang belum jelas bentuknya, sayup-sayup statusnya dan remang-remang penampakannya, akan dikejar sampai ke lobang semut.

Ini ada ratusan customer, ordernya udah mateng, menanti dengan tidak sabar, tetapi terpaksa harus menunggu untuk dilayani oleh karena kapasitas si pengelolanya yang terbatas.

Mau bisnis itu?

Continue reading “BISNIS SOSIAL TAK KENAL KRISIS”

BUKAN SEKEDAR KEMBALI

Tulisan saya di Detik.com, tentang rencana dibukanya kembali kantor-kantor di era pandemi covid-19. Renewal NOT Return.


Saat orang-orang mulai kembali beraktivitas di kantor-kantor, pelan-pelan perkantoran menjadi kluster baru penyebaran Covid-19. Angkanya pun perlahan tapi pasti merangkak naik. Ini sepatutnya menjadi alarm serius untuk para pemimpin di kantor-kantor tersebut.

Kebijakan kembali ke kantor itu sepatutnya dipersiapkan dengan bekal yang memadai. Bukan cuma sekadar bekal 3M –memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Kebijakan 3M itu mungkin cocok untuk ruang publik yang periode interaksinya terbatas, seperti di mall, rumah ibadah, pasar atau kafe.

Di kantor, orang bisa tinggal lebih dari 8 jam x 5 hari seminggu dalam satu ruang dengan interaksi intens. Pola interaksi itu sudah dibangun dalam siklus kebiasaan bertahun-tahun. Akan dengan mudah pola interaksi sebelum era Covid itu dilanjutkan di era adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi ini.

Selengkapnya: https://news.detik.com/kolom/d-5145552/bukan-sekadar-kembali?utm_source=facebook&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_medium=btn&utm_content=news&fbclid=IwAR13lcUTDJ0MqKNd2BPZy_yN9AKVxr1oyCRaUjpeHQBE3gTKnsC-ynQ4hHM

 

RESILIENSI: MERANGGAS DAN TERUS TUMBUH

Salah satu aktivitas new normal pagi hari saya di saat-saat krisis sepert ini adalah menelpon teman-teman lama, saudara atau guru-guru kehidupan saya. Sekedar bertanya bagaimana kabar mereka dan ngobrol ngalor ngilur ngga jelas.

Keliatan saya orang yang sangat peduli terhadap orang lain? Ngga juga. Itu salah satu cara saya mengatasi rasa gelisah dan stress yang kini kian menjangkiti banyak orang.

Hari-hari ini kita dituntut untuk makin resilient menghadapi ketidakjelasan akibat wabah covid ini. Resilient ini terjemahannya kira-kira makin kuat, tabah, tidak gampang menyerah, sekaligus elastis untuk siap melenting lagi.

Continue reading “RESILIENSI: MERANGGAS DAN TERUS TUMBUH”

NEW NORMAL ALA SAM BERNS

“Hidup saya sangat Bahagia”, katanya.

Perkenalkan ini Sam Berns. Usianya kala itu 17 tahun, tapi penampilannya seperti kakek 71 tahun. Tingginya tak lebih dari seorang bocah kelas 2 atau 3 SD dengan berat sekitar 20-an Kg.

Jelas sekali dia memang tidak normal secara fisik.

Selain tinggi dan berat badannya tidak normal, wajahnya sangat tirus, penuh kerut, tak beralis dan berbulu mata, berahang kecil. Sepintas dia seperti makhluk ruang angkasa dalam film ET (Extra Terestrial).

Dia adalah satu dari 250 orang penderita Progeria di dunia. Penyakit kelainan sel tubuh yang membuat penderitanya akan mengalami penuaan fisik secara cepat tanpa bisa dicegah. Ini penyakit amat sangat langka dan belum ada obatnya. Menghinggapi 1 dari 4 juta bayi yang lahir setiap tahunnya.

Rata-rata mereka yang mengidap penyakit ini akan meninggal pada usia kurang lebih 13 tahun. Tapi Sam tidak.

Fisik Sam yang seperti orang tua ringkih dengan nafas tersengal-sengal itu tidak menghalangi jiwa anak mudanya yang baru berusia belasan tahun. Selalu ceria. Orang-orang yang melihatnya alih-alih kasihan malah berdecak kagum dan malu pada diri sendiri. Continue reading “NEW NORMAL ALA SAM BERNS”

HIDUP SETELAH CORONA

Ketika bagian dunia lain masih “gelap” dan mencekam dengan perang melawan covid-19, China dan Korea (pelan-pelan) sudah mulai berani menyambut cahaya dan melanjutkan hidup paska cengkeraman sang virus.

Orang-orang sudah mulai berani jalan-jalan, kantor, sekolah, pasar dan pusat keramaian sudah mulai dibuka dan orang sudah diijinkan bepergian jauh. Pelan-pelan terang mulai datang.

Pertanyaan menarik, bagaimana mereka melihat dunia mereka setelah itu? Apakah mereka keluar dari peperangan ini dengan cara pandang lama sebelum era virus? Atau sudah dengan cara pandang yang sepenuhnya baru? Continue reading “HIDUP SETELAH CORONA”