RAS YANG HIDUP DENGAN SENSASI

Sewaktu sakit kemarin, kaya ada yang berbeda waktu saya melihat cermin. Tampang yang kuyu dan kumis dan jenggot yang awut-awutan membuat saya terlihat menyedihkan.

Bukan cuma menyedihkan, saya juga melihat makhluk yang rapuh disana. Kemudian saya lihat tangan dan anggota tubuh lain yang sering kita banggakan ini, sama saja, terlihat rapuh di mata saya waktu itu.

Padahal katanya, saya, anda, kita semua ras manusia, diciptakan sesempurna-sempurnanya penciptaan.

Iya sempurna, tapi rapuh.

Continue reading “RAS YANG HIDUP DENGAN SENSASI”

PURNAMA YANG TAK LAGI BENDERANG

(Tulisan ini ingin menunjukan bahwa kebahagiaan adalah soal internal state of mind. Cara dan pilihan berfikir anda. Ini soal mind-game (permainan pikiran). Dan pilihan yang bijak adalah memilih sumber kebahagiaan yang hakiki dan mendasar, yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita, seperti menikmatinya dari alam dan dengan orang-orang terdekat. Bukan menyandarkannya pada sesuatu yang cepat berubah dan sementara, seperti teknologi.)

 

Malam itu perjalanan kami ke kawasan Puncak, Bogor, terus menerus diikuti oleh sebentuk benda bulat terang nun jauh di angkasa. Dia seolah bergerak seiring ban mobil melaju di jalanan yang basah disiram gerimis sore harinya. Teman saya memandangi lama benda itu, dan bergumam pendek, “Purnama tapi kok ngga terang.”.  

Benda bulat terang nun jauh di angkasa itu adalah Purnama. Bulan penuh utuh di tanggal 14 kalender Hijriyah. Tetapi malam itu, Purnama tersebut seperti murung. Tidak sebenderang biasanya.

Di sisa perjalanan, kenangan masa lalu bersama Purnama memenuhi hati. Continue reading “PURNAMA YANG TAK LAGI BENDERANG”