RAS YANG HIDUP DENGAN SENSASI

Sewaktu sakit kemarin, kaya ada yang berbeda waktu saya melihat cermin. Tampang yang kuyu dan kumis dan jenggot yang awut-awutan membuat saya terlihat menyedihkan.

Bukan cuma menyedihkan, saya juga melihat makhluk yang rapuh disana. Kemudian saya lihat tangan dan anggota tubuh lain yang sering kita banggakan ini, sama saja, terlihat rapuh di mata saya waktu itu.

Padahal katanya, saya, anda, kita semua ras manusia, diciptakan sesempurna-sempurnanya penciptaan.

Iya sempurna, tapi rapuh.

Continue reading “RAS YANG HIDUP DENGAN SENSASI”

AYAT-AYAT CINTA DAN RESOLUSI TAHUN BARU

Sewaktu Kang Abik (Habiburrahman El Shiradzy) –penulis novel Ayat-Ayat Cinta yang filmnya laris manis itu—memiliki ide untuk mulai menulis Novel tersebut, yang dia lakukan adalah menghadirkan setting timur tengah di kamar tempatnya menulis. Dia pernah tinggal dan kuliah di Mesir, tetapi lanskap gurun pasir, onta dan rumah-rumah batu itu tinggal kenangan.

Dia pasang gambar-gambar gurun lengkap dengan segala ornamennya di kamarnya; gambar suasana kota Kairo, latar tempat dimana Novel itu mengambil cerita; serta kampus Al Azhar University , tempat dimana tokoh Fahri kuliah.

Kang Abik berusaha memvisualisasikan Timur Tengah –terutama Kairo—di dalam kamarnya, agar proses penulisan Novel bisa berjalan lancar. Sebab ide yang sedang meluap-luap di kepalanya ketika itu butuh kaki yang lain, yaitu sebuah latar dan suasana yang  membuat ide itu bisa mengalir keluar, tajam, detil dan tak henti.

Itu mengapa, banyak para penulis butuh menghilang, pergi ke tempat yang jauh dan sepi, atau tinggal menyatu di tempat dimana obyek yang sedang ditulisnya berada, oleh karena motivasi dan ide untuk menulis saja tidak cukup.

Motivasi atau niat atau ide atau apapun, adalah satu hal. Hal lain yang dibutuhkan untuk menjadikan motivasi/ide/ niat itu kejadian adalah Ability (kemampuan). Atau membangun kemampuan untuk menjadikan motivasi itu terlaksana. Continue reading “AYAT-AYAT CINTA DAN RESOLUSI TAHUN BARU”