EKSISTENSI DAN DUA EKOR KATAK

Libur panjang akhir pekan kemarin saya menghabiskan waktu di rumah. Diantara banyak pekerjaan domestik dan bermain bersama dua anak saya, saya juga berkesempatan merajut kembali temali silaturahmi dengan tetangga kanan-kiri. Ngobrol dengan para pensiunan atau mereka yang berada di penghujung masa produktif, apalagi kalau bukan berbicara tentang masa lalu atau topik-topik yang lagi hot belakangan ini, yang tidak penting dan tidak pula genting sebetulnya, tetapi harus dilakukan for the sake of human relationship.

Sesuatu yang saya rasakan belakangan memang semakin terasa mahalnya di tengah banyak kesibukan.

Dalam forum informal dibawah pohon mangga di depan rumah pagi itu, seorang tamu tak diundang datang bergabung (Ia masih tetangga juga sebetulnya, cuma rumahnya agak jauh dan bukan merupakan bagian dari koalisi permanen para tetangga dekat).

Tanpa permisi, sang tamu lalu bercerita tentang sepak terjangnya sebagai seorang jagoan dan preman yang disegani di lingkungan sekitar komplek kami. Tinggi, tegap, hitam, ada bekas luka di pelipisnya dan suaranya bergeletar menguasai forum. Saya sempat menghitung jumlah daun mangga yang gugur jatuh ke tanah sejak sebelum dia datang dan sesudahnya. Jumlahnya memang bertambah. Entah karena pengaruh suara dan cerita dahsyat si lelaki jagoan ini atau karena angin yang berhembus cukup kencang pagi itu, saya tak begitu pasti. Tetapi yang pasti cerita kawan ini memang dahsyat. Forum pun senyap dibuatnya.

Bapak tinggi hitam ini adalah seorang jagoan (setidaknya mantan jagoan) terkenal dan sangat ditakuti, baik oleh sesama jagoan/ preman maupun oleh aparat. Demikian dia membuka riwayat hidup dirinya. Tidak ada preman dan jagoan di sekitar komplek kami yang belum pernah ditaklukan olehnya. Namanya bahkan harum –bak ibu kartini—di jagat dunia hitam melampuai batas-batas geografis RT & RW kami sampai ke komplek-komplek yang cukup jauh letaknya dari tempat kami.

Bukan cuma jago kandang, bapak ini juga bahkan berani menantang duel sebuah geng jagoan di kampung para jagoan tersebut, seorang diri! Bayangkan. Luar biasa bukan?

Sependek ingatan saya yang masih dipengaruhi pilek pagi itu, saya cuma bisa mengingat dua orang saja yang berani melakukan aksi nekad semodel ini. Pertama, Khalifah Umar bin Khattab yang menantang para jagoan quraiysin di tengah pasar kota mekkah yang sudah bosan melihat matahari terbit, agar dipersilakan untuk mencegat dirinya yang akan berhijrah besok pagi. Kedua, diperagakan oleh seorang koboy lokal yang diperankan oleh Bing Slamet dalam film “Koboi Cengeng” (produksi tahun 1974, Sutradar Nyak Abbas Akub) yang berani menantang duel segerombolan bajingan yang dipimpin oleh Cicak bin Kadal (diperankan oleh Eddy Sud).

Yang ketiga tentu sang jagoan van tangerang ini. Saya tidak begitu pasti bagaimana akhir cerita duel tidak seimbang seorang jagoan partikelir lawan segerombolan preman di kampungnya sendiri itu, karena ketika itu saya juga harus bolak-balik mengawasi anak saya yang kecil tengah bermain sepeda. Kuat dugaan saya, bapak ini memenangkan duel tersebut. Buktinya dia masih segar (dengan sedikit codet di pelipis) dan tengah bersemangat menceritakan sukses dirinya sebagai jagoan sekaligus merebut seluruh perhatian dan ruang publik kami dibawah pohon mangga pagi itu.

Terhadap orang-orang dominan yang mendominasi ruang publik tanpa diundang seperti itu, apalagi yang bisa kita lakukan kecuali diam dan menyerahkan waktu dan tempat sepenuhnya untuk monolog dia. Kami (koalisi permanen tetangga dekat) tidak berselera untuk membuat cerita tandingan yang lebih heboh –sebagai response otomatis yang biasanya berlaku dalam obrolan-obrolan yang susah dilakukan uji validitasnya semacam ini. Meski katakanlah dengan sedikit bumbu.

Tapi dasarnya memang kami tidak punya kompetensi dan rekam jejak yang cukup dalam cerita semacam itu, bahkan sekedar untuk membual pun kami tak sanggup. Terpaksalah kami semua menjadi pemirsa yang budiman, sementara bapak jagoan ini menjadi host merangkap nara sumber. Sampai kami kemudian dipisahkan secara alamiah oleh kepentingan rumah tangga masing-masing dan si bapak undur diri karena situasi tidak memungkinkan lagi untuk show must go on.

Diantara juggling mendengarkan cerita sukses diri si bapak dan memperhatikan anak saya yang main sepeda tadi, pikiran saya teringat dengan cerita lama tentang katak kolam dan katak laut.

Dahulu kala konon ada dua ekor katak bertemu dalam sebuah konferensi para katak, seekor katak kolam dan seekor lagi katak laut. Katak kolam adalah tipe banci tampil. Dia tidak boleh melihat panggung, pasti dia akan kuasai panggung itu dan menjadi dominan disana. Sementara si katak laut lebih banyak menyimak suasana.

Dengan segala pesonanya sang katak kolam mengundang sahabat barunya itu ke rumahnya, di sebuah kolam kecil berair di tengah hutan. Sesampai dirumahnya, si katak kolam nyemplung, menyelam, berenang dari sisi satu ke sisi yang lain. Sambil terus berenang kesana kemari memamerkan tempat tinggalnya itu, si katak kolam bertanya ke katak laut yang sedari tadi berdiri mengamati dari pinggir kolam; “bagaimana tempat tinggalku? cantik bukan? luas dan dalam bukan?” Bagaimana tempat tinggalmu? Apakah lebih luas dan lebih dalam dari rumahku ini?”

Ditanya dengan pertanyaan seperti itu, katak laut pun cuma garuk-garuk kepala. Dia tidak tahu bagaimana menggambarkan lautan tempat tinggalnya –yang sangat luas dan sangat dalam—itu kepada sobat barunya ini. Jawaban yang keluar dari mulutnya hanyalah; “kelak aku bawa engkau kesana….”dan inilah quote favorit saya dari si katak laut—“engkau bisa berenang-renang sepuasmu disana”.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa si bapak jagoan itu adalah seekor katak kolam dan kami para pendengarnya adalah para katak laut. In fact, kami semua pendengarnya adalah katak dalam tempurung yang sama sekali tidak tahu dunia semacam itu, bahkan tidak sanggup berbual untuk itu.

Hanya saja, kadang-kadang saya jadi ngeri sendiri. Seandainya saja saya ada dalam situasi untuk selalu eksis dengan cara-cara lebay plis, rasanya saya jadi malu hati sendiri. Jangan-jangan diantara para pendengar atau audience di sekitar saya bertengger para katak laut yang tidak banyak bicara tapi mereka sebetulnya jauh lebih eksis.

Mereka yang tidak banyak cakap, tidak suka meng-ekspos dirinya, tetapi prestasi sesungguhnya jauh lebih besar dari kata-katanya.

Hebatnya, dalam pengalaman saya, para katak laut ini adalah makhluk-makhluk rendah hati yang kadang bahkan masih rela dan mau banyak mendengar dari para katak kolam yang riuh berbunyi di sekelilingnya.

Dasar katak kolam, sikap mau mendengar para katak laut ini sering diartikan sebagai sinyal superioritas dirinya. Semakin menjadi-jadi lah dia berbunyi, pada setiap saat dan tempat . Fokus utamanya hanya pada dirinya. Lupa dia menarik pelajaran dari rekannya, sang katak laut. Karenanya nasibnya tidak pernah berubah. Menjadi katak kolam.