I GOT “SHANGHAI’ED” IN SHANGAI

(Sebuah catatan perjalanan)

“Apa yang harus saya lakukan?”, perempuan di depan saya ini bertanya penuh paradoks.  Mata dan wajah cerdasnya kini sayu dan pupus, seperti rumput-rumput di bandara Pudong yang coklat merana. Di telantarkan musim dingin dan diacuhkan musim semi.

Dari 24 juta manusia penghuni kota “Queen of The Orient’ ini, Tuhan pasti sedang tidak bercanda mengirim satu dari penghuninya ini untuk berbincang dengan saya sore itu di pojokan Nanjing Road yang dingin menusuk.  Meski coffee shop tempat kami berbincang memiliki penghangat ruangan, tapi saya tetap merasa kota ini teramat dingin. Mata orang-orangnya dingin.  Penguasanya dingin.  Ambisi orang-orang dan penguasanya juga sangatlah dingin. Fakta bahwa sore itu cuaca nyaris menyentuh titik  0 derajat celcius, membuat saya makin bergidik.

Tetapi Jessica Wang menahan sesuatu yang hangat yang mulai  memenuhi matanya. Aku melihat dia sekuat tenaga menahannya untuk tidak jatuh.  Dia tidak ingin terlihat cengeng di hadapan laki-laki asing yang baru dikenalnya tidak lebih dari tiga hari lalu. Tetapi sesuatu di dalam dirinya membuat suaranya bergetar.

Hati perempuan setengah baya ini tidaklah dingin. Dia seperti sungai Huangpu yang membelah kota ini menjadi dua bagian, timur dan barat, yang tidak pernah membeku bahkan di musim salju sekalipun. Continue reading “I GOT “SHANGHAI’ED” IN SHANGAI”

PURNAMA YANG TAK LAGI BENDERANG

(Tulisan ini ingin menunjukan bahwa kebahagiaan adalah soal internal state of mind. Cara dan pilihan berfikir anda. Ini soal mind-game (permainan pikiran). Dan pilihan yang bijak adalah memilih sumber kebahagiaan yang hakiki dan mendasar, yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita, seperti menikmatinya dari alam dan dengan orang-orang terdekat. Bukan menyandarkannya pada sesuatu yang cepat berubah dan sementara, seperti teknologi.)

 

Malam itu perjalanan kami ke kawasan Puncak, Bogor, terus menerus diikuti oleh sebentuk benda bulat terang nun jauh di angkasa. Dia seolah bergerak seiring ban mobil melaju di jalanan yang basah disiram gerimis sore harinya. Teman saya memandangi lama benda itu, dan bergumam pendek, “Purnama tapi kok ngga terang.”.  

Benda bulat terang nun jauh di angkasa itu adalah Purnama. Bulan penuh utuh di tanggal 14 kalender Hijriyah. Tetapi malam itu, Purnama tersebut seperti murung. Tidak sebenderang biasanya.

Di sisa perjalanan, kenangan masa lalu bersama Purnama memenuhi hati. Continue reading “PURNAMA YANG TAK LAGI BENDERANG”