REUNI DI “KOLAM KECIL”

Hari sabtu kemarin saya hadir di acara reuni SMA.  Sebuah reuni besar satu angkatan setelah terpisah 20 tahun semenjak lulus.

Acara reuninya sendiri selalu asyik. Bertemu teman-teman lama yang sudah banyak berubah penampakannya, mendengar cerita lama yang belum kelir (clear), ngobrol ngalor-ngidul tentang keluarga, pekerjaan, rencana-rencana ke depan, dan lain-lain. Singkat cerita, waktu seolah berhenti dalam tawa-canda di ajang reuni.  

Tidak ada yang tidak ceria dalam momen semacam itu. Bahkan mereka yang pernah mengalami pengalaman traumatis di masa lalunya –seperti kasih tak sampai kepada seseorang—dapat tertawa cengengesan mengingat masa lalu itu, berdua dengan orang yang dulu menampik kasihnya itu. Jika dimanfaatkan dengan baik, ajang reuni adalah media efektif bagi seseorang berdamai dengan masa lalunya.

Acara reuni yang saya hadiri kemarin juga begitu. Dari sekian banyak cerita tentang reuni, ada satu pelajaran menarik yang ingin saya bagi. Ini berkaitan erat dengan sebuah buku bagus; “David and Goliath” karya Malcolm Gladwell yang sedang saya baca.

Sekolah kami itu adalah sekolah unggulan sekaligus sekolah idaman di Tangerang.  Semua anak pintar dari penjuru Tangerang (ketika itu hanya ada 1 Tangerang, kini ada 3 Tangerang; Kota, Kabupaten dan Tangerang Selatan) tumplek blek di sekolah itu. Bisa di bayangkan bagaimana peta persaingannya.

Ketika memilih sekolah itu selulus SMP, sebetulnya saya cari penyakit.  NEM saya pas-pasan aja  untuk masuk sekolah itu. Satu-satunya motivasi saya adalah saya ingin terlihat keren bisa masuk sekolah idaman pelajar-pelajar di kota kami itu. Maksud lebih lanjutnya mudah di tebak; rating saya sebagai jejaka masa itupun diharapkan terkerek naik, katakanlah di mata para pelajar putri. Tengil sekali.

Persoalannya, terlihat kerennya cuma satu-dua pekan pertama saja. Selebihnya adalah penderitaan.  Setiap hari selama 3 tahun.

Saya yang biasanya cepat menangkap pelajaran, tiba-tiba di sekolah itu saya seperti orang paling lemot. Bukan karena saya bodoh, tetapi oleh karena teman-teman saya menangkap pelajaran jauh lebih cepat.  Terutama pada mata pelajaran eksakta, seperti matematika, fisika dan kimia.

Bukan cuma cepat menangkap rumus dan teori saja, teman-teman saya itu kemudian dengan entengnya mengembangkan rumus dan teori tersebut, menjawab soal-soal turunannya, mengeksplorasi  kemungkinan-kemungkinan baru dari rumus dan teori tersebut, sampai melihat kemungkinan aplikasinya di lapangan dengan beberapa skenario.

Mereka sampai pada level berfikir seperti itu bahkan ketika otak saya belum selesai loading-nya.

Rapot saya di tahun-tahun pertama menunjukan situasi ketertinggalan yang tragis itu. Saya yang biasanya penghuni tetap tiga besar teratas semasa SMP, pernah terjerembab di level 10 besar terbawah di kelas.  

Situasi tersebut diperunyam dengan kesibukan saya di luar sekolah yang semakin menjauhkan dari apa yang disebut belajar dengan tekun.  Bukannya mengutak-atik rumus dan teori, pada masa itu saya lebih asik berorganisasi. Kerap menghilang dari rumah atau sekolah untuk urusan yang bagi banyak teman-teman saya waktu itu, susah di mengerti. Masa itu saya sudah mengenal kelompok diskusi, konferensi, training dan membaca buku-buku “aneh”, seperti filsafat, budaya, sastra, dan sejenisnya.  

Oleh karena kesibukan dan minat saya di organisasi, seorang sahabat pernah menyarankan saya untuk mengambil jurusan Sosial di SMA. Saran yang sesungguhnya bijak itu saya abaikan dan lebih memilih jurasan Fisika (A-1).  Selain karena soal gengsi  juga dengan pertimbangan yang cukup masuk akal; bukankah kita akan ikutan baik jika berada dalam sebuah lingkungan yang baik? Lagipula –pada masa itu – cuma jurusan A-1 yang memungkinkan bagi siswa untuk lebih punya banyak pilihan ketika memilih jurusan kuliah.

Demikianlah.  Saya memilih apa yang dibahas oleh Gladwell dalam buku “David and Goliath” untuk menjadi “ikan kecil di kolam besar”.  Saya memaksakan diri untuk itu dan tidak pernah menjadi “Ikan Besar”. Dan saya kian menderita di sana.

Singkat cerita, saya betul-betul jadi underdog di sekolah para juara itu. Untunglah kemudian saya cepat menyadari kekeliruan cara berfikir ini.

Sejak saya memilih masuk jurusan A-1, obrolan harian kawan-kawan saya adalah tentang  kampus-kampus keren sekelas ITB dan UI, dengan jurusan mentereng, Teknik atau Kedokteran. Kesanalah tujuan mereka. Dan itu membuat saya semakin bergidik sekaligus ciut. Bergidik membayangkan betapa gemerlap dan terangnya jalan kesuksesan yang sepertinya sudah terentang di depan kawan-kawan saya ini, sekaligus ciut membayangkan jalan hidup seperti apa kelak yang cocok dengan orang medioker seperti saya?

Tetapi kesadaran ini rupanya membantu untuk tidak lagi salah mengambil jalan.

Ketika teman-teman berlomba-lomba  mendaftar masuk ke jurusan Teknik, Kedokteran, Ekonomi dan setumpuk jurusan keren di Perguruan Tinggi paling keren di negeri ini, saya dengan sadar memilih jurusan Sosiologi. Sebuah jurusan yang jauh dari keren, boleh dikatakan underdog jika dibandingkan dengan tiga jurusan favorit di atas. Sebagian teman-teman saya bahkan tidak bisa membedakan Psikologi dengan Sosiologi.

Saya tidak ingin menjadi Caroline Sacks, seorang mahasiswa sangat pintar di SMA-nya dalam buku Gladwell itu, yang awalnya bercita-cita menjadi ilmuwan, tetapi segera menemukan bahwa cita-citanya itu tidak mudah setelah dia memilih masuk ke sebuah perguruan tinggi elit untuk mengejar cita-citanya itu, Brown University di Amerika.   

Kenapa tidak mudah? Karena Sacks harus berkompetisi dengan banyak sekali orang pintar di sekolah itu dengan ambisi yang sama yang membuat kepintarannya –dibandingkan dengan teman-temannya sekelas—seperti tidak berarti apa-apa. Itulah yang kelak membuatnya frustasi dan pada akhirnya memutuskan bahwa sebetulnya dia tidak punya bakat untuk menjadi ilmuwan science.

Padahal, jika dibandingkan dengan populasi orang-orang pintar di seluruh Amerika, sangat boleh jadi Sacks termasuk dalam 10% teratas orang paling pintar di negeri itu. Persoalanya ke sepuluh persen orang itu –sebagian terbesarnya—bersekolah di tempat dia sekolah. Itulah konsep “Ikan Kecil di Kolam Besar”.

Itulah juga yang membuat mengapa calon-calon insinyur di Harvard dan MIT banyak memutuskan berhenti di tengah jalan dengan alasan mereka tidak punya bakat, bukan karena betul-betul mereka tidak punya bakat. Tetapi oleh karena mereka membandingkan diri mereka dengan teman-teman di sekelilingnya yang memang sudah sangat pintar-pintar.

Gladwell mengkontraskannya dengan data insinyur-insinyur yang lulus dari kampus-kampus yang posisinya dibawah level dua kampus hebat di Amerika itu. Di kampus-kampus tersebut, mereka yang punya kemampuan yang sama (setelah mengikuti tes tertentu), persentase kelulusannnya jauh lebih besar di bandingkan di Harvard dan MIT. Kenapa? Karena mereka terkena efek menjadi “Ikan Besar di Kolam Kecil”.  Ini sebuah gejala psikologis biasa.

“Di negara mana yang rakyatnya lebih sering bunuh diri?”, demikian Gladwell memberikan pertanyaan provokatif, “di negara-negara yang indeks kebahagiaann-nya  tinggi, seperti Swiss, Denmark, Belanda dan Kanada? Atau di negara yang rakyatnya mengaku tidak bahagia, seperti Yunani, Italia, Portugal dan Spanyol?”

Berdasarkan hasil risetnya, Gladwell menyimpulkan bunuh diri banyak terjadi di negara yang rakyatnya mengaku berbahagia. Kenapa? Sederhana saja, karena ketika mereka tidak bahagia, mereka akan langsung melihat perbedaan yang sangat kontras dengan lingkungan di sekelilingnya yang berbahagia. Mereka sedih, depresi, down di tengah orang yang tersenyum.

Bandingkan dengan orang-orang tidak bahagia di tengah lingkungan yang memang sudah dari sananya tidak bahagia. Bagaimana efeknya? Tentu berbeda bukan?  (saya jadi berfikir itu juga barangkali penjelasan mengapa di tengah segala kesulitan dan keputusasaan hidup, orang Indonesia tetap bisa cengar-cengir, dibandingkan dengan orang Jepang dan Korea yang lebih suka menghabisi hidupnya sendiri. Padahal dalam banyak hal, orang Jepang atau Korea harusnya jauh lebih bahagia dibandingkan dengan orang Indonesia. Ahh..indahnya negeriku..).

Manusia memiliki kecenderungan untuk membandingkan kondisinya dengan orang yang sama keadaannya dengan kita. Itu naluriah saja. Tetapi disitulah terkadang letak persoalan serius yang kerap berujung pada kegagalan dan ketidakbahagiaan hidup.

Buku Gladwell ini sendiri sebetulnya ingin mencoba menjungkirbalikan asumsi bahwa kekurangan dan kelemahan (yang dilambangkan dengan David atau Daud dalam cerita agama-agama) tidak selalu berujung dengan kegagalan. Dan sebaliknya, kehebatan dan kelebihan (seperti dilambangkan Goliath) tidak selalu berakhir dengan kesuksesan.

Dengan data dan fakta yang dibeberkannya, Gladwell justru menantang logika berfikir kita, justru seringkali di balik kekurangan dan kelemahan seseorang atau organisasi, terletak titik kekuatannya. Begitu juga dibalik kelebihan dan kekuatan –jika tidak waspada—terletak titik-titik kejatuhannya.

Di balik otak medioker saya untuk pelajaran Matematika, Fisika dan Kimia, rupanya saya menyimpan potensi besar dan sangat menikmati ketika harus membangun dan mengembangkan organisasi , berbicara di forum-forum pelatihan dan menulis artikel bertema sosial-politik dan kepemimpinan. 

Saya jalani kuliah di Jurusan Sosiologi UI dengan baik. Punya cukup waktu untuk mengembangkan hobi berorganisasi dan menulis, skripsi saya dijadikan buku yang cukup mendapat perhatian ketika itu, saya pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu asisten dosen paling produktif semasa mengajar di Jurusan Sosiologi, dapat beasiswa untuk jalan-jalan dan belajar ke Amerika,  dan yang terpenting saya bisa menemukan “kolam kecil” yang pas untuk saya. Alhamdulillah.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa saya sudah sukses. Jauh dari  itu.

Saya hanya ingin berdamai dengan diri saya sendiri, bahwa membandingkan diri dengan orang lain bukanlah sebuah cara bijak untuk berhasil. Apalagi untuk bahagia. Oleh karena itu, saya memilih kolam saya sendiri dan berusaha untuk tidak terpengaruh oleh opini ramai di sekeliling saya, bahwa kolam disana jauh “lebih besar” atau jauh “lebih baik”. 

Iya, barangkali mungkin lebih besar atau lebih baik, tetapi belum tentu cocok untuk saya.

Dan, setelah 20 tahun berlalu, saya juga menemukan teman-teman SMA saya sudah menemukan kolamnya masing-masing.  Ada yang menjadi ikan besar di kolam besar, ada juga yang menjadi ikan besar di kolam kecil. Tetapi, itu tidak penting dalam sebuah reuni.

Yang jelas reuni kami, di hari sabtu yang diguyur hujan kemarin, menjadi kolam kecil yang membasuh dahaga kerinduan kami. 

Terima kasih temans.