PAGI GERIMIS DI PELABUHAN KECIL

Begitu di hidupkan, deru mesin pesawat Twin Otter seri 300 buatan Kanada itu menjerit sejadinya. Suaranya kering dan memekakan telinga. Penyumpal teliga berwarna kuning seukuran satu ruas kelingking yang dibagikan petugas bandara –yang tampak masih ngantuk di pagi yang gerimis itu– gagal meredamnya. Tak ada yang berminat untuk berbincang di dalam kabin pesawat berkapasitas 17 orang itu, sebab itu perbuatan sia-sia belaka.

Di kokpit yang sempit, seorang kapten pilot setengah baya, rambut dan kumisnya dua warna, sibuk mengecek, memainkan panel-panel manual, dan seperti berkomunikasi dengan seseorang entah dimana di temani seorang co-pilot yang tampak jauh lebih muda.

Kursi nomor 1C yang aku duduki hanya berjarak 1 jangkauan lengan saja dari punggung co-pilot itu. Tidak ada pintu kokpit yang angker, tidak ada pramugari yang manis, sehingga aku bebas mengawasi semua gerak-gerik dua orang di dalam ruang kemudi yang tak lebih besar dari ruang kemudi angkot itu. Dua orang beda generasi di kokpit tersebut kami titipi mandat nasib dan keselamatan kami pagi itu.

Hidung pesawat memutar menjauh dari terminal mungil di pedalaman kalimantan dan menuju titik pacu di landasan yang basah oleh gerimis. Pesawat berbadan merah itu adalah penghuni satu-satunya pelabuhan udara kecil nan sunyi ini. Dia dipaksa terbang sehari tiga kali membawa pulang dan pergi para penghuni kota. Teriakannya yang memekakkan telinga itu boleh jadi nyanyian perih atas hidupnya yang berteman sunyi.

Tiba di posisi take-off, bising mesin kian menjadi. Baling-baling di kanan kiri dan muncung depan pesawat berputar sangat cepat seperti hendak copot dan terpelanting. Kami seperti menduduki mesin, sebab badan kami bergetar hebat seiring dengan gerakan baling-baling. Lampu di padamkan dan AC di matikan. Suasana di dalam kabin panas dan mencekam. Tiga orang anak kecil yang ikut dalam penerbangan itu  memeluk erat dan menyembunyikan muka mereka ke dalam pelukan orang tuanya.

Nyali kami ciut. Beberapa penumpang saling berpegangan, menutup mata pasrah, seraya berkomat-kamit merapal doa.

Dalam momen-momen menegangkan itu, tiba-tiba sang kapten melepas tangannya dari seluruh panel. Dia menundukkan kepala dan menengadahkan kedua tangannya. Dia berdoa. Dia berdoa dalam sekali.

Tiba-tiba ada perasaan haru dan hangat yang diam-diam menjalar di dalam hatiku. Perasaan hangat yang membawa tenang.

Aku yakin itu bukan penerbangan pertamanya. Dilihat dari garis-garis pangkat yang berjejer-banyak menyemat di atas pundaknya, dari rambut dan kumisnya yang sudah meninggalkan dunia hitam, dari kerut mukanya yang tak lagi kencang.

Mungkin sudah ribuan bahkan mungkin puluhan ribu jam terbang dia lewati. Sudah berbilang jenis besi terbang dia kemudikan dan sudah lebih dari delapan penjuru mata angin dia jelajahi sudut-sudut dunia ini. Penerbangan pagi itu –dari Bandara kecil 300 KM dari Balikpapan—adalah seperti just another fine day. Seperti aktifitas rutin pagi hari –mandi, memakai baju dan menyisir rambut—yang sangat biasa, yang tak perlu kita pikir dan risaukan lagi. Karena sudah ribuan kali kita ulang tanpa pernah gagal.

Tetapi, kawan, sang kapten tetap merasa perlu berhenti sejenak untuk memohon petunjuk Sang Penguasa Hidup. Dengan segala kerendahan hatinya, dia tanggalkan sementara pangkat dan pengalamannya –yang seharusnya tanpa cela itu—dihadapan kemahakuasaan-Nya yang bisa berbuat apa saja terhadap pesawat ini dan 17 orang di dalamnya.

Itulah contoh persenyawaan sempurna antara kompetensi dan karakter. Antara jam terbang tinggi, kemampuan level-dewa dengan kesadaran diri akan sifat manusia yang tak sempurna. Akan adanya kekuatan lain yang dapat membuat semua jam terbang dan kemampuan tersebut tak berarti apa-apa. Persenyawaan yang menghadirkan kewaspadaan –bahwa segala sesuatu sangat mungkin terjadi di luar kontrol diri— yang menjauhkan diri dari sikap self-complacent (cepat berpuas diri). 

Persenyawaan itulah yang menjauhkan setiap individu dari sikap sombong dan arogan. Sebuah penyakit umum yang banyak diidap yang biasanya menjadi titik jatuh manusia. Yaitu ketika manusia mulai merasa diri hebat dan tidak menyisakan kehebatan itu untuk orang lain atau sesuatu di luar dirinya. Inilah titik dimana biasanya manusia tidak lagi mau mendengar, melihat dan belajar.  Kalau sudah begitu, bukankah manusia itu cuma sedang mempertinggi tempat jatuh?

Sang Kapten, di pagi yang gerimis itu, menunjukan kepada saya apa arti profesionalisme yang sesungguhnya. Dia lakukan semua prosedur yang ditetapkan untuk sebuah penerbangan, dia tunjukan bagaimana seharusnya sebuah profesi dijalani dengan sebuah kesungguhan dan taggung jawab, meski “hanya” di sebuah pesawat kecil berpenumpang 17 orang dan di pelosok yang jauh di pedalaman, pada sebuah pelabuhan udara yang sunyi.

Di atas itu semua, dia tunjukan bagaimana seharusnya karakter seorang profesional di bangun. Tak pernah berpuas diri, selalu waspada dan bersinergi dengan kekuatan lain yang lebih besar dari dirinya, termasuk kekuatan Sang Penguasa Kehidupan. Itulah yang membuatnya tertunduk dan menengadahkan tangan sejenak di hadapan saya pagi itu. Sebelum kemudian mendorong tuas power di atas kepalanya keras-keras. Dan mesin semakin bising menderu-deru.