BUKAN SEKEDAR KEMBALI

Tulisan saya di Detik.com, tentang rencana dibukanya kembali kantor-kantor di era pandemi covid-19. Renewal NOT Return.


Saat orang-orang mulai kembali beraktivitas di kantor-kantor, pelan-pelan perkantoran menjadi kluster baru penyebaran Covid-19. Angkanya pun perlahan tapi pasti merangkak naik. Ini sepatutnya menjadi alarm serius untuk para pemimpin di kantor-kantor tersebut.

Kebijakan kembali ke kantor itu sepatutnya dipersiapkan dengan bekal yang memadai. Bukan cuma sekadar bekal 3M –memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Kebijakan 3M itu mungkin cocok untuk ruang publik yang periode interaksinya terbatas, seperti di mall, rumah ibadah, pasar atau kafe.

Di kantor, orang bisa tinggal lebih dari 8 jam x 5 hari seminggu dalam satu ruang dengan interaksi intens. Pola interaksi itu sudah dibangun dalam siklus kebiasaan bertahun-tahun. Akan dengan mudah pola interaksi sebelum era Covid itu dilanjutkan di era adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi ini.

Selengkapnya: https://news.detik.com/kolom/d-5145552/bukan-sekadar-kembali?utm_source=facebook&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_medium=btn&utm_content=news&fbclid=IwAR13lcUTDJ0MqKNd2BPZy_yN9AKVxr1oyCRaUjpeHQBE3gTKnsC-ynQ4hHM

 

RUANG GANTI

“Siapa yang memenangkan ruang ganti, ia akan keluar sebagai juara”.

Barcelona, 26 Mei 1999.

Dua klub besar, Manchester United (MU) dan Bayern Muenchen, sedang bertarung memperebutkan gengsi sebagai penguasa tertinggi sepakbola Eropa. Kedua klub –ketika itu—adalah penguasa liga lokal di negaranya masing-masing dan tengah memperebatkan gelar ketiga (treble), gelar paling bergengsi di level Eropa, Liga Champions Eropa. Mereka mewakili dua bangsa dan negara besar dengan tradisi juara sejak dulu, Inggris dan Jerman.

Pada saat istirahat babak pertama,  skor 1 – 0 untuk keunggulan Bayern Muenchen.

Di ruang ganti MU, anak-anak generasi emas “class of 92” (David Beckham, Ryan Giggs, Paul Scholes, dkk) itu tampak tidak percaya. Mereka yang lebih agresif dan mendominasi pertandingan bisa tertinggal lebih dulu. Continue reading “RUANG GANTI”

DIPLOMASI ANAK-ISTRI

Messi – Suarez – Neymar

Beberapa waktu lalu saya dan seorang teman diundang untuk berbincang dengan beberapa orang mantan pimpinan sebuah lembaga tinggi negara.

Oleh karena keberhasilan mereka memimpin lembaga itu di masa lalu, merekapun diminta untuk menjadi konsultan internal sang mantan dan sedang menyiapkan program pengembangan.

Problemnya klasik.

Pimpinan-pimpinan yang baru dianggap masih kebingunan mengurus lembaga maha penting perawat demokrasi itu, sehingga seperti tak tentu arah.

Dengan sistem kolektif-kolegial yang diterapkan disitu, dan setelah lebih dari satu tahun terpilih, para pimpinan seperti jalan masing-masing.  Tidak ada koordinasi, ego sektoral, ego latar belakang dan tak bekerja sebagaimana mestinya sebagai sebuah tim.  Yang satu mau ke utara dan yang lain mau ke selatan.  Dalam banyak kasus, satu sama lain seperti kucing dengan anjing.

Padahal nasib dan keberlangsungan demokrasi bangsa ini, diantaranya, ada di tangan para pimpinan itu. Continue reading “DIPLOMASI ANAK-ISTRI”

MEMILIKI VERSUS BERBAGI

Minggu lalu saya diundang untuk berbicara di depan forum  Sekolah Relawan (yang saya ceritakan kiprahnya secara detil dalam tulisan RELAWAN, PEMIMPIN DAN KERJA TAK BERBAYAR)

Mereka akan mengirim angkatan kedua anak-anak muda Indonesia penuh semangat dan idealisme dalam program  Tatar Nusantara.

Tatar Nusantara (TN) adalah program yang mirip dengan Indonesia  Mengajar-nya Anies Baswedan. Bedanya mereka bukan cuma mengajar, tetapi  selama setahun penuh menemu-kenali,  menggali dan mengembangkan pontensi sosial- ekonomi  daerah tersebut (biasanya daerah terpencil),  bersama-sama dengan masayarakat setempat . Ujung-ujungnya diharapkan dapat mengangkat derajat sosial-ekonomi masyarakat sekitar.

Mereka yang dikirim bukanlah anak-anak muda kurang kerjaan. Sebagiannya adalah anak-anak muda berprestasi dan bahkan sudah bekerja di posisi-posisi yang bagus. Salah satunya sudah bekerja di sebuah perusahaan multi nasional di luar negeri.  Tetapi oleh karena panggilan hati nurani, dia tinggalkan pekerjaan empuk itu dan mengabdi dalam program TN.

Memang inilah satu diantara ciri kaum millennial. Anak-anak muda zaman now,  generasi gadget,  yang kerap bikin pusing banyak orang itu. Continue reading “MEMILIKI VERSUS BERBAGI”

MEMIMPIN ADALAH MELAWAN!

Keberanian (courage) adalah salah satu kompetensi kepemimpinan yang paling sering dan paling lama dibahas. Sejak zaman Aristoteles mengungkapkan bahwa “Keberanian adalah kebajikan yang pertama dan utama yang membuat kebajikan lainnya dimungkinkan…”
Tanpa keberanian memang tidak akan ada kepemimpinan. Karena sejatinya menjadi pemimpin adalah mengambil resiko yang orang lain hindari, mengambil jalan yang orang lain tidak lewati, dan melakukan sesuatu di luar kebiasaan dan kewajaran bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Apa namanya kalo bukan keberanian yang menjadi modal pertama dan utama?

Anak muda difabel berkursi roda, hilang kedua kakinya, dengan gagah berani maju melawan serdadu bersenjata lengkap yang menyerbu kampung dan tanah kelahirannya, hanya dengan melempari batu. 

Dia yang bahkan tidak mampu menggerakan sendiri kursi rodanya itu akhirnya gugur setelah kepalanya di tembus peluru panas para serdadu. Ketika malaikat maut menjemputnya dari medan pertempuran tak seimbang itu, kedua tangannya tetap berusaha mengibarkan bendera Palestina, tanah air yang dibelanya sampai titik darah penghabisan.

Nama anak muda itu  Ibrahim Abu Thuraya.  Video tentang keberanian anak muda ini kadung menjadi viral beberapa waktu lalu, di tengah kembali panasnya isu Palestina – Israel.

                                                                                   *********

Kalimat yang menjadi judul dari tulisan ini sejatinya dipopulerkan diantaranya oleh Handry Satriago, sang CEO General Electric Indonesia yang juga seorang difabel berkursi roda.  Handry menemukan bahwa kualitas yang mengantarkan dia pada pencapaian karirnya di dunia ini adalah karena “perlawanannya” terhadap diri sendiri. Utamanya terhadap ketakutannya sebagai seorang yang tak sempurna secara fisik. Continue reading “MEMIMPIN ADALAH MELAWAN!”