MISKIN DAN KAYA

Jodi adalah teman saya lari pagi. Dia pelari yang mengagumkan. Dia bisa lari non-stop selama 1 sampai 1,5 jam dengan kecepatan diatas rata-rata pelari lain di lintasan itu. Dia selalu nampak bersungguh-sungguh dan serius ketika sedang berlari, karena tidak ada lain yang bisa dilakukannya. Jodi seorang tuna rungu dan tuna wicara. Alias dia tidak bisa mendengar dan bicara. Ketika berlari dia sangat fokus.

Jika kebetulan ada cewek cakep lewat, Jodi sering ngasih isyarat khas cowo normal. Di usianya yang sudah 47 tahun dia belum menikah. Dia tidak punya uang katanya. Pekerjaannya menjadi tukang bangunan serabutan yang menunggu panggilan. Itupun kalo mandornya cukup sabar mau mempekerjakan seorang tukang yang bisu dan tuli.

Dengan keterbatasan kemampuan saya menangkap bahasa isyarat, dia menjelaskan bahwa beberapa kali dia ditolak oleh gadis karena kondisinya. Ditambah dia tidak punya cukup uang. Tapi dia tidak putus asa. Dia bilang dia selalu berdoa sambil menangis di tengah malam untuk meminta diberikan jodoh.

Tadinya saya pengen memotivasi Jodi dengan mengutip kata-kata seorang motivator “Kalau miskin jangan kelamaan, kasian keluarga…” Tapi hati saya ngga nyampe kesitu. Bahkan di otak sayapun ngga ada memori tentang kalimat itu sebelumnya. Kalo itu tidak jadi kontroversi beberapa waktu lalu, saya ngga tau bahwa ada kalimat sesongong itu.

Continue reading “MISKIN DAN KAYA”

BISNIS SOSIAL TAK KENAL KRISIS

Di tengah situasi bisnis yang lagi lesu darah seperti sekarang, mempunyai ratusan order yang belum sempat tertangani oleh karena load yang menumpuk adalah sebuah kemewahan. Itu adalah angin surga yang diimpikan para pelaku bisnis, yang saat ini harus berjuang bahkan hanya sekedar untuk bertahan membayar cicilan rutin.

Jangankan ratusan order di depan mata, satu peluang order yang belum jelas bentuknya, sayup-sayup statusnya dan remang-remang penampakannya, akan dikejar sampai ke lobang semut.

Ini ada ratusan customer, ordernya udah mateng, menanti dengan tidak sabar, tetapi terpaksa harus menunggu untuk dilayani oleh karena kapasitas si pengelolanya yang terbatas.

Mau bisnis itu?

Continue reading “BISNIS SOSIAL TAK KENAL KRISIS”

MESSI DAN EKOSISTEM PARA JOMBLO

Nasib Messi di perhelatan piala dunia ini seperti rengginang di kaleng Khong Guan sebulan setelah lebaran.

Loyo.

Di makan engga enak, ngga dimakan… ngga ada pilihan. Karena ekosistem hidangan lebaran lain telah lenyap menyisakan kaleng berwarna merah itu menonjol sendirian di atas meja.

Begitulah Messi yang masygul dan galau di tengah lapangan berlari-larian sendirian tak tentu arah. Di lihat-lihat kok kaya jomblo yang bingung mau ngajak jalan siapa di malam minggu. Tapi kalo ngga di liat, itu Lionel Messi cuy….sang pemain terbaik dunia 5 kali! Continue reading “MESSI DAN EKOSISTEM PARA JOMBLO”

MEMILIKI VERSUS BERBAGI

Minggu lalu saya diundang untuk berbicara di depan forum  Sekolah Relawan (yang saya ceritakan kiprahnya secara detil dalam tulisan RELAWAN, PEMIMPIN DAN KERJA TAK BERBAYAR)

Mereka akan mengirim angkatan kedua anak-anak muda Indonesia penuh semangat dan idealisme dalam program  Tatar Nusantara.

Tatar Nusantara (TN) adalah program yang mirip dengan Indonesia  Mengajar-nya Anies Baswedan. Bedanya mereka bukan cuma mengajar, tetapi  selama setahun penuh menemu-kenali,  menggali dan mengembangkan pontensi sosial- ekonomi  daerah tersebut (biasanya daerah terpencil),  bersama-sama dengan masayarakat setempat . Ujung-ujungnya diharapkan dapat mengangkat derajat sosial-ekonomi masyarakat sekitar.

Mereka yang dikirim bukanlah anak-anak muda kurang kerjaan. Sebagiannya adalah anak-anak muda berprestasi dan bahkan sudah bekerja di posisi-posisi yang bagus. Salah satunya sudah bekerja di sebuah perusahaan multi nasional di luar negeri.  Tetapi oleh karena panggilan hati nurani, dia tinggalkan pekerjaan empuk itu dan mengabdi dalam program TN.

Memang inilah satu diantara ciri kaum millennial. Anak-anak muda zaman now,  generasi gadget,  yang kerap bikin pusing banyak orang itu. Continue reading “MEMILIKI VERSUS BERBAGI”

CERITA KECIL DI KOLAM KECIL

Saat liburan kemarin saya menghabiskan waktu diantaranya dengan memancing.  Aktivitas yang entah sudah berapa puluh tahun tidak pernah lagi saya lakukan.  Kebetulan di sekitar kampung istri saya banyak terdapat kolam-kolam ikan peliharaan penduduk. 

Yang menjadi nilai lebihnya adalah saya memancing dengan ditemani panorama khas lukisan alam –yang pada masanya—banyak di gantung disekolah-sekolah dan rumah-rumah zaman dulu; bukit dan gunung disekeliling, kemudian hamparan sawah menguning serta gemericik air sungai.  Berada di tempat seperti itu, otak saya kosong dari sebuah konsep ruwet bernama Ibu Kota beserta segenap persoalannya.

Apalagi ketika ditengah-tengah asyiknya mancing, kami disuguhi penganan oleh si empunya kolam yang sepertinya kok pas dengan lanskap semacam itu; kacang dan ubi rebus serta kelapa muda yang diambil langsung dari pohon di sisi-sisi kolam. Aihh…siapa peduli Ibukota mau dipindah atau tidak?

Aktivitasnya memancingnya sendiri mengasyikan. Continue reading “CERITA KECIL DI KOLAM KECIL”