MISKIN DAN KAYA

Jodi adalah teman saya lari pagi. Dia pelari yang mengagumkan. Dia bisa lari non-stop selama 1 sampai 1,5 jam dengan kecepatan diatas rata-rata pelari lain di lintasan itu. Dia selalu nampak bersungguh-sungguh dan serius ketika sedang berlari, karena tidak ada lain yang bisa dilakukannya. Jodi seorang tuna rungu dan tuna wicara. Alias dia tidak bisa mendengar dan bicara. Ketika berlari dia sangat fokus.

Jika kebetulan ada cewek cakep lewat, Jodi sering ngasih isyarat khas cowo normal. Di usianya yang sudah 47 tahun dia belum menikah. Dia tidak punya uang katanya. Pekerjaannya menjadi tukang bangunan serabutan yang menunggu panggilan. Itupun kalo mandornya cukup sabar mau mempekerjakan seorang tukang yang bisu dan tuli.

Dengan keterbatasan kemampuan saya menangkap bahasa isyarat, dia menjelaskan bahwa beberapa kali dia ditolak oleh gadis karena kondisinya. Ditambah dia tidak punya cukup uang. Tapi dia tidak putus asa. Dia bilang dia selalu berdoa sambil menangis di tengah malam untuk meminta diberikan jodoh.

Tadinya saya pengen memotivasi Jodi dengan mengutip kata-kata seorang motivator “Kalau miskin jangan kelamaan, kasian keluarga…” Tapi hati saya ngga nyampe kesitu. Bahkan di otak sayapun ngga ada memori tentang kalimat itu sebelumnya. Kalo itu tidak jadi kontroversi beberapa waktu lalu, saya ngga tau bahwa ada kalimat sesongong itu.

Continue reading “MISKIN DAN KAYA”