SHOULD WE GO BACK TO THE OFFICE?

Secara spontan –mayoritas pegawai maupun para bos—akan menjawab kompak; YES! Tetapi kalo ditelisik lebih dalam alasannya bisa beda-beda.

Yang paling umum adalah bahwa mereka sudah merindukan bertemu, berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan teman-temannya di kantor. Dengan kata lain kebutuhan untuk terkoneksi dengan manusia lain (maaf para bos, bukan benar-benar ingin kembali produktif dan berkontribusi).

Sambil di sisi yang lain, mayoritas yang ingin kembali ke kantor sudah letih dengan kesendirian saat bekerja di rumah, mengalami technological-fatigue dari satu virtual meeting ke virtual meeting lainnya, yang ternyata malah bikin stress.

Continue reading “SHOULD WE GO BACK TO THE OFFICE?”

KOMPETENSI

Beberapa hari setelah lebaran, ceritanya saya diminta untuk menjadi tim penguji (bahasa kerennya panelis) untuk calon-calon pimpinan sebuah kampus swasta di Tangerang. Pekerjaannya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menguji visi, gagasan dan track-record mereka sebagai akademisi dan calon pimpinan (wakil rektor, dekan dan direktur program pasca sarjana) di sebuah kampus yang sedang berkembang pesat itu.

Meski seorang pengajar, saya bukan akademisi yang hidup di kampus. Saya pernah jadi akademisi di awal karir saya dahulu di almamater saya. Tapi pekerjaan itu sudah lama saya tinggalkan. Sesekali datang ke kampus sebagai pengajar tamu atau sekedar ngobrol-ngobrol berbagi inspirasi dengan mahasiswa dan dosen.

Sempet bertanya-tanya juga kenapa mereka meminta saya? Bukannya banyak para akademisi kawakan dengan titel-titel mentereng yang tentu lebih layak menguji para doktor-doktor itu? Ya, para kandidat yang saya uji itu rata-rata berpendidikan doktor (S-3), dari dalam dan luar negeri.

Anda tahu berapa lama mereka sekolah untuk sampe dapat gelar itu setelah tamat SMA? Kadang sama dengan masa jabatan Presiden 2 periode. Satu dasawarsa alias 10 tahun!

Continue reading “KOMPETENSI”

WIBAWA DAN KHARISMA

Minggu lalu saya dibuat kaget oleh seorang teman. Ketika memperkenalkan saya di depan audiens sebelum saya tampil bicara, dia menyebut saya memiliki “kharisma” sebagai seorang pembicara.

Jelas teman ini sedang tidak bercanda, karena bukan tipenye bercanda tidak perlu di depan banyak orang. Dan bukan sedang menyenangkan hati saya, karena kami berteman sejak lama dan selalu apa adanya satu sama lain.

Sebagai seorang yang meminati topik kepemimpinan, lama saya memikirkan tentang kata “kharisma” ini dan mencoba mencari tahu apa dan bagaimana bentuknya. Karena dalam konteks budaya tradisional Indonesia, kata ini lebih sering disematkan dengan kepemimpinan. Artinya sangat penting dan sangat dekat kekerabatannya dengan kepemimpinan.

Berbeda misalnya dengan kultur barat, yang lebih sering mengasosiasikan kepemimpinan dengan “keberanian”, “visi”, “role model” dan sejenisnya.

Tiga terakhir itu gampang di definiskan. Karena berkaitan dengan karakter atau kompetensi yang sudah makin terang dan gamblang definisinya saat ini.

Kharisma ini misterius. Continue reading “WIBAWA DAN KHARISMA”

DIPLOMASI ANAK-ISTRI

Messi – Suarez – Neymar

Beberapa waktu lalu saya dan seorang teman diundang untuk berbincang dengan beberapa orang mantan pimpinan sebuah lembaga tinggi negara.

Oleh karena keberhasilan mereka memimpin lembaga itu di masa lalu, merekapun diminta untuk menjadi konsultan internal sang mantan dan sedang menyiapkan program pengembangan.

Problemnya klasik.

Pimpinan-pimpinan yang baru dianggap masih kebingunan mengurus lembaga maha penting perawat demokrasi itu, sehingga seperti tak tentu arah.

Dengan sistem kolektif-kolegial yang diterapkan disitu, dan setelah lebih dari satu tahun terpilih, para pimpinan seperti jalan masing-masing.  Tidak ada koordinasi, ego sektoral, ego latar belakang dan tak bekerja sebagaimana mestinya sebagai sebuah tim.  Yang satu mau ke utara dan yang lain mau ke selatan.  Dalam banyak kasus, satu sama lain seperti kucing dengan anjing.

Padahal nasib dan keberlangsungan demokrasi bangsa ini, diantaranya, ada di tangan para pimpinan itu. Continue reading “DIPLOMASI ANAK-ISTRI”

ADAB MENGAJAR IBU-IBU

Beberapa minggu terakhir ini saya mendapatkan tantangan lebih dalam karir saya sebagai seorang pengajar dan pembicara publik, yaitu mengajar Ibu-ibu.

Saya sering berjumpa dengan para Ibu dalam kelas-kelas saya, tetapi biasanya dalam konteks peran profesional mereka, baik sebagai seorang karyawan maupun pimpinan di organisasi/ perusahaan.

Ini kali saya mengajar para full time Moms. Orang-orang spesial yang menjadi role model dari anak-anaknya bahkan jauh sebelum anak-anaknya mengerti arti sebuah kata. Para pekerja penuh waktu, pembangun peradaban yang tak kenal henti dari rumah-rumah mereka,  yang hanya berharap dibayar dengan cinta yang tulus.

Mereka adalah para menejer yang rangkap-rangkap jabatan di berbagai divisi –keuangan, operasional, diklat, keamanan, kebersihan, merangkap OB dan kurir—di rumah mereka masing-masing.  Tetapi dengan mereka tentu saya tidak bisa berbicara dengan jargon-jargon teknis manajerial yang rumit itu.

Bukan mereka ngga faham, tetapi kebutuhan mereka bukan itu. Continue reading “ADAB MENGAJAR IBU-IBU”