TUKANG AIR

Ada cerita lama tentang seorang pria tukang air yang bolak-balik mengambil air dari sumur di sebuah hutan untuk kebutuhannya  sehari-hari. Dia menggunakan dua buah ember  kayu yang dia pikul menggunakan pikulan yang juga terbuat dari kayu. Setiap hari dia menempuh jarak yang sama pulang dan pergi.

Tak terasa sekian masa sudah lamanya dia melewati rutinitas itu.

Salah satu ember yang dia gunakan lebih tua dari yang satunya. Oleh karenanya sudah banyak bolong disana-sini. Setiap kali si tukang air sampai di rumahnya, si ember tua kehilangan setengah atau lebih isinya di sepanjang perjalanan kembali dari hutan.  Sementara si ember yang lebih muda, oleh karena kondisi fisiknya yang prima, tidak kehilangan sedikitpun air yang dibawanya dari sumur di tengah hutan.

Si ember yang lebih muda merasa bangga dengan hasil kerjanya yang maksimal.  Sedangkan si ember tua mulai muram. Ada perasaan malu dan tak berguna yang menyelimuti hatinya. Meski dia sadar betul kondisi fisiknya menurun setelah melewati kerja keras bertahun-tahun bersama si tukang air.

Tak ingin mengecewakan tuannya itu, suatu hari ketika dirinya mulai diisi air oleh sang tuan dari sumur itu, dia memberanikan diri untuk berbicara secara terbuka.

“Maafkan aku tuan, oleh karena usiaku, beberapa waktu terakhir ini aku tidak  lagi sanggup menjaga air tetap penuh sampai di rumahmu. Aku mungkin telah mengecewakanmu”. Dia tertunduk. Hatinya sudah ikhlas dengan ketetapan apapun dari sang tuan.

Di luar dugaan, sang tuan tersenyum dan berkata lembut kepada sahabat teman seperjuangannya ini; “saat kembali ke rumah nanti, perhatikanlah olehmu di sepanjang jalan yang kita lewati”.

Mentaati perintah tuannya,  diapun mulai mengamati. Di sepanjang perjalanan pulang itu dia mendapati bunga-bunga dan pepohonan tumbuh bermekaran. Hijau dan meranum.  Hanya di sisi yang di lewati olehnya. Tidak di sisi yang lain.

“Ahayy…kemana saja aku”, pikirnya. Dia menyaksikan pemandangan tak biasa yang selama ini luput dari pengamatannya. Dia tidak sadari karena terlalu asik dengan pikirannya yang muram, yang merasa tidak berguna dan langut dalam lamunan putus asa.

“Indah bukan?”, kata si tukang air membuyarkan ketakjubannya. “Itu cuma ada di sisi yang engkau lewati, kawan”. 

“Aku tahu engkau tidak lagi muda. Tubuhmu sudah tak kuat lagi menjaga air untuk tetap penuh. Tapi tahukah kau, kawan, aku menebar benih-benih tanaman dan bunga di sepanjang jalan ini dan engkau menyiraminya setiap hari”.

“Bunga segar yang menghiasi rumahku, wortel dan kentang yang dimakan setiap hari oleh anak-anakku adalah hasil kerjamu, kawan”

Dia merasakan suara pria tukang air itu menambah deras air yang mengucur. Tapi kali ini bukan dari badannya.

                                                         —————————-

Hari ini, doa saya, berharap tetap bisa se-prima si ember muda dalam menjalankan peran-peran yang dititipkan hidup kepada saya, sambil di berikan Kerendahan hati dan keikhlasan untuk membantu  membuka jalan serta menumbuhkan  banyak “kehidupan baru” yang lebih baik kelak, seperti si ember tua.

Dan terutama, di berikan kebijaksanaan si tukang air untuk menjaga keseimbangan diantara keduanya.  

Amin.