BISNIS SOSIAL TAK KENAL KRISIS

Di tengah situasi bisnis yang lagi lesu darah seperti sekarang, mempunyai ratusan order yang belum sempat tertangani oleh karena load yang menumpuk adalah sebuah kemewahan. Itu adalah angin surga yang diimpikan para pelaku bisnis, yang saat ini harus berjuang bahkan hanya sekedar untuk bertahan membayar cicilan rutin.

Jangankan ratusan order di depan mata, satu peluang order yang belum jelas bentuknya, sayup-sayup statusnya dan remang-remang penampakannya, akan dikejar sampai ke lobang semut.

Ini ada ratusan customer, ordernya udah mateng, menanti dengan tidak sabar, tetapi terpaksa harus menunggu untuk dilayani oleh karena kapasitas si pengelolanya yang terbatas.

Mau bisnis itu?

Continue reading “BISNIS SOSIAL TAK KENAL KRISIS”

MEMILIKI VERSUS BERBAGI

Minggu lalu saya diundang untuk berbicara di depan forum  Sekolah Relawan (yang saya ceritakan kiprahnya secara detil dalam tulisan RELAWAN, PEMIMPIN DAN KERJA TAK BERBAYAR)

Mereka akan mengirim angkatan kedua anak-anak muda Indonesia penuh semangat dan idealisme dalam program  Tatar Nusantara.

Tatar Nusantara (TN) adalah program yang mirip dengan Indonesia  Mengajar-nya Anies Baswedan. Bedanya mereka bukan cuma mengajar, tetapi  selama setahun penuh menemu-kenali,  menggali dan mengembangkan pontensi sosial- ekonomi  daerah tersebut (biasanya daerah terpencil),  bersama-sama dengan masayarakat setempat . Ujung-ujungnya diharapkan dapat mengangkat derajat sosial-ekonomi masyarakat sekitar.

Mereka yang dikirim bukanlah anak-anak muda kurang kerjaan. Sebagiannya adalah anak-anak muda berprestasi dan bahkan sudah bekerja di posisi-posisi yang bagus. Salah satunya sudah bekerja di sebuah perusahaan multi nasional di luar negeri.  Tetapi oleh karena panggilan hati nurani, dia tinggalkan pekerjaan empuk itu dan mengabdi dalam program TN.

Memang inilah satu diantara ciri kaum millennial. Anak-anak muda zaman now,  generasi gadget,  yang kerap bikin pusing banyak orang itu. Continue reading “MEMILIKI VERSUS BERBAGI”

CERITA KECIL DI KOLAM KECIL

Saat liburan kemarin saya menghabiskan waktu diantaranya dengan memancing.  Aktivitas yang entah sudah berapa puluh tahun tidak pernah lagi saya lakukan.  Kebetulan di sekitar kampung istri saya banyak terdapat kolam-kolam ikan peliharaan penduduk. 

Yang menjadi nilai lebihnya adalah saya memancing dengan ditemani panorama khas lukisan alam –yang pada masanya—banyak di gantung disekolah-sekolah dan rumah-rumah zaman dulu; bukit dan gunung disekeliling, kemudian hamparan sawah menguning serta gemericik air sungai.  Berada di tempat seperti itu, otak saya kosong dari sebuah konsep ruwet bernama Ibu Kota beserta segenap persoalannya.

Apalagi ketika ditengah-tengah asyiknya mancing, kami disuguhi penganan oleh si empunya kolam yang sepertinya kok pas dengan lanskap semacam itu; kacang dan ubi rebus serta kelapa muda yang diambil langsung dari pohon di sisi-sisi kolam. Aihh…siapa peduli Ibukota mau dipindah atau tidak?

Aktivitasnya memancingnya sendiri mengasyikan. Continue reading “CERITA KECIL DI KOLAM KECIL”