“Kapan ada waktu, Ali, saya ingin bertemu”. SMS itu masuk beberapa kali ke inbox saya. Datang dari seseorang yang dalam suatu masa pernah cukup dekat. Pada sebuah masa yang lampau, hampir 20 tahun lalu. Beberapa kali membuat janji temu untuk kemudian di tunda beberapa kali pula. Padahal rumahnya tidak terlalu jauh, masih di kota yang.
Beberapa waktu terakhir ini ceritanya saya mulai rajin mengunjungi pusat kebugaran (Fitness Center). Olah raga favorit saya tetaplah Futsal. Nge-gym ini cuma dalam rangka memanfaatkan fasilitas gratis dari kantor sekaligus juga berusaha untuk menjaga supaya perut saya tidak terus membesar secara terstruktur, massif dan sistematis. Maklumlah, mendekati usia 40, pertambahan lingkar perut bukanlah sebuah prestasi.
Pria di depan saya ini bicaranya sangat efisien, cenderung agak cepat dengan logat chinese yang kental. Tetapi tetap dengan senyum, yang juga efisien. Berurusan dengan dia mengingatkan saya pada seorang perempuan tua yang saya temui lebih dari sepuluh tahun lalu di Singapura pada sebuah acara yang lain. Perempuan tua Singapura itu, ketika itu, mengelola sebuah.
Hari sabtu kemarin saya hadir di acara reuni SMA. Sebuah reuni besar satu angkatan setelah terpisah 20 tahun semenjak lulus. Acara reuninya sendiri selalu asyik. Bertemu teman-teman lama yang sudah banyak berubah penampakannya, mendengar cerita lama yang belum kelir (clear), ngobrol ngalor-ngidul tentang keluarga, pekerjaan, rencana-rencana ke depan, dan lain-lain. Singkat cerita, waktu seolah berhenti dalam tawa-canda.
Salah satu aktivitas favorit saya di sabtu atau minggu pagi adalah sarapan bubur ayam bersama keluarga. Ada bubur ayam enak hanya beberapa puluh meter dari rumah kami. Perpaduan antara rasanya yang mantap, harganya yang ekonomis, sate jeroannya yang mak nyus, dan lokasinya yang leluasa untuk parkir dan melintas membuat warung bubur ayam itu selalu di penuhi.






