Di ketinggian tanah Simalungun, di tengah perkebunan teh yang permai, pernah hidup seorang kepala desa yang memerintah selama kurang lebih 50 tahun. Masyarakat setempat menyebutnya pangulu tua. Ketika saya berkesempatan bertemu dengannya, usianya sudah sangat sepuh, mungkin mendekati 100 tahun. Waktu itu, sekitar pertengahan tahun 90-an, dia sudah tidak lagi menjabat. Saya beruntung masih sempat berjumpa.
Apa hubungannya? Apakah Steve Jobs –CEO paling sukses dan paling berpengaruh abad ini– juga ikut berpuasa? Barangkali itu yang akan segera terfikir di kepala anda. CEO Apple incorporation itu adalah seorang budhist, keyakinan personal yang dia pilih setelah sebuah petualangan spiritual yang menggetarkan ke India. Petualangan spiritual itu pula yang menginspirasi dirinya mendirikan Apple Computer.
For those who’re dreaming to be a damn-good trainer/public speaker/political, social or business leader, or just want to be a great bedtime storyteller, it’s worth trying. Steve Jobs is the man behind the crazy idea of iPad, iPhone, iPod, iMac, etc. He is the most influencing business guy in the planet. Check out one of.
Majalah SWA edisi 23 Sept 2010 menurunkan cerita menarik tentang manusia-manusia hebat. Tentang mereka yang pernah jatuh ke dasar kehidupan yang sangat dalam, menderita, tetapi kemudian berhasil bangkit kembali dan sukses gilang gemilang; meraih pendidikan dan jabatan tertinggi di bidangnya masing-masing. Ada cerita tentang Handy Satriago, yang lumpuh lunglai kedua kakinya sejak SMA dan harus.
Namanya Wahidin Halim. Dia adalah Walikota Tangerang saat ini. Anak asli Tangerang, yang berkarir sedari awal sebagai birokrat lokal. Pernah jadi Lurah, Camat, Sekda dan kemudian menjadi Walikota di Tangerang selama 2 periode. Tentang profesi dan karirnya, singkatnya beliau adalah; ambtenaar (pegawai negeri) klotokan didikan Republik sejak zaman Orde Baru. Tetapi Wahidin berbeda dengan ambtenaar lain. Saya tidak.

