Ketika berbicara tentang “Revolusi Mental”, saya teringat potongan cerita dari final kejuaraan Bulu Tangkis All England di tahun 1974. Ketika itu Rudy Hartono dari Indonesia berhadapan dengan Punch Gunalan asal Malaysia. Rudy Hartono adalah legenda hidup yang sudah memenangkan kejuaraan itu 6 (enam) kali berturut-turut sejak tahun 1968. Final di tahun 1974 itu adalah final.
Selama liburan sekolah ini rumah saya jadi “markas besar” bermain anak-anak tetangga sekitar rumah. Dua anak saya kerap mengajak serta teman-temannya untuk berkumpul dan bermain di dalam rumah. Sebagaimana galibnya anak-anak usia SD bermain, mereka bising dan ribut dan biasanya hasil akhirnya rumah berantakan seperti pesawat Hercules pecah. Masih banyak rumah tetangga yang lebih besar.
Ekspresi anak-anak usia 4-6 tahun itu demikian natural. Sebagian besar mereka tak tahan godaan, langsung mencaplok sebiji marshmallow yang disajikan diatas piring di depan mereka. Beberapa diantaranya mencoba menunggu waktu beberapa saat –setelah sang peneliti menghilang dari ruangan—untuk kemudian mencaploknya juga. Hanya sedikit saja yang kuat bertahan menunggu selama 15 menit berhadap-hadapan dengan camilan sejenis gula-gula yang.
Kasus penelantaran anak oleh sepasang suami istri di Cibubur mengingatkan saya pada sekuel film The Godfather. Salah satu film legendaris karya sutradara kontroversial Hollywood, Francis Ford Coppola, yang diangkat dari novel laris karya Mario Puzo berjudul sama. Kalau banyak perempuan termehek-mehek dengan film romantis semodel Titanic atau Kuch Kuch Hota Hai (atau mungkin sekarang film-film pop Korea), maka belum ada.
Pada masanya, ketiganya benar-benar “Macan Asia”. Mewakili tiga bangsa, tiga puak besar dan ratusan juta ummat manusia, yang hidup dalam satu kawasan semenanjung yang pernah dipersatukan dan dinamai –oleh Maha Patih Gadjah Mada—sebagai Nusantara. Soeharto, seorang Jawa tulen, memimpin negara dengan rakyat ratusan juta bernama Indonesia. Mahathir Mohammad, Melayu keturunan India, memimpin bangsa Malaysia yang.





