“Bukan yang paling kuat atau yang paling cerdas yang akan bertahan. Yang akan bertahan adalah yang yang paling bisa menyesuaikan diri dengan perubahan”. Kalimat bertuah milik Mbah Charles Darwin itu terngiang-ngiang di telinga saya waktu minggu lalu saya berdiskusi dengan seorang teman—yang juga klien—tentang agility (kelincahan). Perusahaannya – sebuah multinasional asal Jepang—mengalami sebuah situasi tak.
Banyak eksekutif hari-hari ini mengalami sindrom –kata anak muda sekarang—Andi Lau, antara dilema dan galau. Perlambatan ekonomi yang berlarut-larut ini membuat semua strategi pertumbuhan dan ekspansi seperti pisau tumpul. Tidak banyak membantu, kalau boleh dibilang tidak berfungsi sama sekali. Oleh karena itu strategi paling populer digunakan pada zaman ini adalah strategi bertahan (survival). Masih bisa.
“Tidak adil kamu bilang…?”, Cinta meradang.. “Yang kamu lakukan ke saya itu….Jahat”. Kalimat terakhirnya membuat Rangga tertunduk diam. Jarak emosional seratus lebih purnama betul-betul terlampau jauh, meski secara fisik mereka hanya dipisahkan sebongkah meja kafe. Mereka yang sudah nonton film “Ada Apa Dengan Cinta 2” (AADC2) pasti tahu bagian ini. Adegan ini sebetulnya sangat biasa..
Kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa datar saja. Tetapi kata-kata itu berisi dan penuh tenaga. Menyuntikan vitamin dan energi ke dalam pikiran saya dan kemudian menggerakan hati. Pikiran dan hati saya –yang biasanya saling berkhianat—kemudian bergandengan tangan melesat berkelana ke tempat-tempat yang jauh, yang bahkan tidak pernah bisa di jangkau oleh fisik saya. Kata-katanya itu.
Dalam tulisan terdahulu saya menjelaskan bahwa spiritualitas adalah inti kehidupan, dalam kehidupan pribadi maupun professional. Termasuk di dalamnya kepemimpinan. Kehilangan spiritualitas dalam kehidupan berarti kehilangan hidup itu sendiri. Dia akan seperti pelita kehabisan minyak. Perlahan-lahan nyala dan energi hidupnya redup dan mati. Siap-siap saja berkawan dengan kegelapan dan kegalauan. Dalam konteks zaman modern, spiritualitas ini.

