Sewaktu cek-in di counter Garuda Indonesia di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, ternyata lebih dari 90% kursi sudah terisi. Padahal kami datang 2 jam sebelum waktu terbang. Kursi-kursi favorit dekat jendela dan di lorong semua sudah fully book. Kami bertiga akhirnya duduk di kursi-kursi tengah dan terpisah satu sama lain, diapit oleh orang-orang asing . Terbayang.
Saat liburan kemarin saya menghabiskan waktu diantaranya dengan memancing. Aktivitas yang entah sudah berapa puluh tahun tidak pernah lagi saya lakukan. Kebetulan di sekitar kampung istri saya banyak terdapat kolam-kolam ikan peliharaan penduduk. Yang menjadi nilai lebihnya adalah saya memancing dengan ditemani panorama khas lukisan alam –yang pada masanya—banyak di gantung disekolah-sekolah dan rumah-rumah zaman.
Begitu menerima kabar duka itu, langkah saya tiba-tiba terasa berat. Lama sudah kami tidak bertemu. Kehidupan sudah betul-betul membuat kami sibuk mengejar bayangan masing-masing. Tetapi benarlah ungkapan itu; True friends are never apart. May be in the distance, but never in heart. Bukan karena gerimis yang masih menggenang di bumi para datuk sore itu yang.
Setelah berbulan-bulan, pencapaian prestasi lari saya agak kurang mengesankan. Saya masih belum bisa mencapai 10 KM, ambang batas psikologis bagi seseorang bisa dianggap sebagai seorang “pelari murni”. Kalau saya masih pelari campur. Campur jalan kaki. Skor terjauh saya baru sampai di 8 KM yang ditempuh dalam waktu 50 menit. Sungguh terlalu! Tetapi saya masih belum.
Bukan hanya dalam panggung politik, isu langkanya supply pemimpin untuk mengisi pos-pos penting di dalam organisasi bisnis saat ini adalah satu diantara topik penting dan sangat serius yang bikin pusing para pemimpin bisnis. Makanya bajak membajak pemimpin adalah hal biasa dan juga bisnis gurih yang menghidupi banyak orang. Manajer yang kompeten banyak tapi yang layak.

