(Sebuah catatan perjalanan) “Apa yang harus saya lakukan?”, perempuan di depan saya ini bertanya penuh paradoks. Mata dan wajah cerdasnya kini sayu dan pupus, seperti rumput-rumput di bandara Pudong yang coklat merana. Di telantarkan musim dingin dan diacuhkan musim semi. Dari 24 juta manusia penghuni kota “Queen of The Orient’ ini, Tuhan pasti sedang tidak.
Minggu lalu saya berdiskusi dengan salah satu klien, dari salah satu perusahaan paling sukses di tanah air. Di tengah berita suram tentang kelesuan ekonomi dan PHK di mana-mana, perusahaannya salah satu diantara yang membukukan laba fantastis di tahun lalu. Mereka siap-siap untuk ekspansi besar-besaran di tahun ini, dan mereka akan memulainya dengan program spiritualitas. “Spiritualitas?”.
Di depan rumah kami pernah hidup sebatang pohon manga. Ketika kami menempati rumah itu, usia pohon mangga itu mungkin menjelang remaja. Lebih tinggi dari saya dengan batang yang sudah membelah, cabang dan rantingnya menjuntai kemana-mana, daunnya sudah banyak. Tetapi belum berbuah. Setelah lebih dari 5 tahun kami menghuni rumah itu, pohon itu semakin tinggi dan.
Jagat sepakbola hari-hari ini sedang berguncang dengan berita Jurgen Klopp, pelatih eksentrik asal Jerman, resmi menjadi pelatih Liverpool. Guncangannya cukup dahsyat sampai nyaris melupakan persoalan maha penting di depan mata, seperti asap yang masih bergentayangan di sumatera dan kalimantan. Jurgen Klopp adalah pelatih sukses dan salah satu yang paling hot saat ini, yang merevolusi Borrusia.
Minggu pagi, saya makan bubur di warung bubur yang pernah saya ceritakan dahulu. Sambil nyarap bubur, kali ini perhatian saya tertuju kepada sekelompok anak-anak yang sedang berlatih Taekwondo di lapangan. Pelatih mereka seorang Bapak paruh baya (mungkin mendekati 60 tahun), agak tambun dan mulai lamban dalam gerakannya. Anak-anak usia SD-SMP itu demikian gesit –sedikit tengil—berlatih.





