Minggu lalu saya diundang untuk berbicara di depan forum Sekolah Relawan (yang saya ceritakan kiprahnya secara detil dalam tulisan RELAWAN, PEMIMPIN DAN KERJA TAK BERBAYAR) Mereka akan mengirim angkatan kedua anak-anak muda Indonesia penuh semangat dan idealisme dalam program Tatar Nusantara. Tatar Nusantara (TN) adalah program yang mirip dengan Indonesia Mengajar-nya Anies Baswedan. Bedanya mereka.
Sewaktu Kang Abik (Habiburrahman El Shiradzy) –penulis novel Ayat-Ayat Cinta yang filmnya laris manis itu—memiliki ide untuk mulai menulis Novel tersebut, yang dia lakukan adalah menghadirkan setting timur tengah di kamar tempatnya menulis. Dia pernah tinggal dan kuliah di Mesir, tetapi lanskap gurun pasir, onta dan rumah-rumah batu itu tinggal kenangan. Dia pasang gambar-gambar gurun.
Keberanian (courage) adalah salah satu kompetensi kepemimpinan yang paling sering dan paling lama dibahas. Sejak zaman Aristoteles mengungkapkan bahwa “Keberanian adalah kebajikan yang pertama dan utama yang membuat kebajikan lainnya dimungkinkan…”Tanpa keberanian memang tidak akan ada kepemimpinan. Karena sejatinya menjadi pemimpin adalah mengambil resiko yang orang lain hindari, mengambil jalan yang orang lain tidak lewati,.
Pada tahun 1884, seorang anak muda brilian menginjakan kaki di Amerika hanya berbekal buku puisi, secarik kertas rekomendasi dan uang 4 sen. Demikian film inflight movie di maskapai Garuda itu dibuka. Sayapun tertarik menyimaknya sampai habis dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Kertas rekomendasi itu ditujukan kepada seorang yang sangat terkenal pada zamannya, dan masih tetap.
Apa yang paling penting dalam hidup anda? Kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada Bang Bahrul, jawabannya tegas dan mantap: Keluarga, terutama anaknya yang berjumlah 8 (delapan) orang. Bang Bahrul adalah supir Uber yang saya tumpangi minggu lalu. Berbadan kekar, kepala plontos, Janggut lebat, suara menggelegar. Kalau dia pakai kacamata hitam, dia akan sangat mirip dengan vokalis.

